Menggugat Praktek Demokrasi Buah Semangka, Indonesia Menuju Tirani Minoritas

Ilustrasi. [credit: qureta.com]

Apa yang selama ini saya khawatirkan nampaknya agenda-agenda new ideologi semakin menunjukkan taring keangkuhannya yang dibangun di atas rencana-rencana hegemoni, tirani, nasiolisme kolonialisme, monopolistik, oligarki serta perasaan kebangsaan atas keunggulan ras seperti yang pernah dipraktek masyarakat kulit putih di Afrika selatan.

Saya ingin menyampaikan secara empiris, faktual serta secara prespektif proses.

EMPIRIS KE-1

Mengapa Bangsa Indonesia sangat relaktan terhadap komunisme?

Bangsa Indonesia khususnya orang-orang Islam pernah mengalami kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh para pengikut Komunisme, perlu diketahui bahwa para pengikut Komunisme di Indonesia pada waktu itu kebanyakan dari kalangan orang-orang Islam yang disesatkan oleh pentolan-pentolan Komunisme, peristiwa Madiun 1948 dan peristiwa 1965 yang puncaknya penculikan dan pembunuhan 7 orang Jendral Angkatan Darat.

Peristiwa Madiun 1948 serta peristiwa 1965 adalah peristiwa pertarungan antar Ideologi seperti Islam, Komunisme, Sosialisme, dan Nasionalisme.

Dilihat dari sejarah lahirnya ideologi, Islam sesungguhnya bukan sebuah ideologi tapi merupakan prinsip moral dan etika yang menuntun manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Demikian juga mengapa ABRI jadi sasaran Komunisme, padahal ABRI itu bukan sebuah ideologi tapi sebagai alat negara.

Seandainya umat Islam yang dipelopori ulama dan santri bersama ABRI gagal membasmi PKI pada peristiwa 1948 dan 1965 mungkin hari ini Indonesia jadi negara komunis dan atheis, Islam dan ABRI-lah yang membuat Indonesia hari ini berideologi Pancasila.

Makanya keturunan komunis dan gerakan komunisme di Indonesia sangat anti dan dendam kesumat terhadap Islam dan ABRI (TNI).

EMPIRIS KE-2

Saya ikut dalam proses Amandemen UUD 45 karena tahun 1999-2009 saya anggota DPR RI, proses amandemen UUD 45 menjadi UUD 2002 cacat proses dan cacat konstitusi. Di samping cacat proses dan cacat konstitusi, juga menghilangkan Kedaulatan Rakyat serta dasar dan prinsip Demokrasi yang dibangun di atas geopolitik Pancasila yang berbasis Kerakyatan menjadi demokrasi pluralistik tirani yang dibangun di atas partai politik berdasarkan hegemoni kapitalistik.

UUD 2002 telah berhasil merombak secara total struktur demokrasi dan ideologi Pancasila menjadi sebuah demokrasi buah semangka. Demokrasi buah semangka adalah demokrasi yang mirip seperti NASAKOM-nya Bung Karno. Kita ketahui bahwa buah semangka di luarnya hijau tapi di dalamnya merah.

Proses demokrasi yang sedang dipraktekkan di Indonesia sekarang ini persis seperti buah semangka, di mana umat Islam dan TNI (hijau) dipaksa menjadi casing demokrasi yang menghasilkan kekuasaan yang tidak mencerminkan Pancasila itu sendiri. Kita tahu bangkitnya komunisme dengan atribut warna merah (daging semangka warna merah) adalah akibat dari amandemen UUD 45. Demokrasi yang berkedok Pancasila tapi sesungguhnya isinya warna merah, dengan menggunakan umat Islam dan TNI sebagai lokomotif politik yang pada akhirnya menghasilkan kekuatan politik baru. Ini artinya umat Islam dan TNI dijebak dengan Konstitusi hasil amandemen UUD 2002. Saya paham betul bahwa sistem demokrasi yang harus dipraktekkan dalam konstitusi baru adalah sistem tirani dan dominasi partai transaksional, serta mendegradasi fungsi politik pertahanan TNI.

Akibatnya demokrasi buah semangka mengancam Pancasila serta melahirkan kekuasaan politik yang rentan terhadap ikut sertanya komunisme dalam pemerintahan dan secara bertahap tidak menutup kemungkinan komunisme kembali aktif secara terang-terangan dalam sistem politik Indonesia dan sangat berbahaya bagi umat Islam dan TNI serta bagi bangsa dan negara.

Di samping itu kita melihat sejarah gerakan komunisme di dalam mencapai dominasi politik ideologi dan kekuasaan selalu dilakukan dengan cara-cara kasar, tirani, keji serta pembunuhan tanpa mengenal hukum. Bagi komunisme, negara adalah organisasi komunisme dan hukum adalah komunis itu sendiri.

DEMOKRASI BUAH SEMANGKA SECARA FAKTUAL

Di atas telah saya sampaikan bahwa praktek demokrasi di Indonesia mengarah pada demokrasi dalamnya merah (Komunisme, Atheis dan sekuleristik) tapi luarnya hijau (Islam dan TNI). Praktek Demokrasi seperti ini jelas-jelas menyimpang dari ideologi Pancasila serta terhadap pembukaan UUD 45. Sepertinya ada gerakan kelompok untuk menghidupkan kembali frekuensi NASAKOM dalam sistem politik Indonesia.

Demokrasi buah semangka tidak hanya membahayakan NKRI akan tetapi juga mengarah pada konsep-konsep negara tirani, sekuler, atheis dan komunisme.

Jika praktek-praktek demokrasi seperti ini tidak dihentikan dengan cara kembali pada UUD 45 hanya akan melahirkan tirani kekuasaan yang akan membawa kesengsaraan rakyat serta ancaman perpecahan bangsa dan ambruknya NKRI. Demokrasi di dalamnya merah dan di luarnya hijau (Islam dan TNI) jelas-jelas tidak bisa dibiarkan terjadi, karena pasti bertentangan dengan Pancasila maupun Pembukaan UUD 45. Bagi umat Islam maupun TNI memiliki karakter yang sama dan pandangan yang sama bahwa Pancasila menolak komunisme dan menolak konsep Nasakom.

Kasus Pilkada DKI adalah bentuk pemaksaan atas nama demokrasi buah semangka ini. Bahkan ada salah satu calon Gubernur DKI mengatakan bahwa memilih berdasarkan agama adalah melanggar konstitusi, yang jadi pertanyaan saya adalah konstitusi yang mana?

Pernyataan Ahok ini menuding Islam, dan pernyataan Ahok ini jelas sekali melawan Pancasila dan tidak mengakui hak agama seseorang untuk menjadikan agamanya sebagai pilar kehidupan politiknya. Tapi kenyataannya kita telah menyaksikan bahwa putaran pertama Ahok 99% agama Kristen dan etnis Cina memilih Ahok, tapi di sisi lain ketika orang-orang Islam menyerukan untuk memilih gubernur Muslim diteriaki intoleran, rasis, dan anti bhinneka. Ooo jadi toleran, rasis itu hanya berlaku pada orang-orang Islam sementara pada orang-orang minoritas tidak berlaku?

Orang-orang Kristen dan Orang Cina 99% memilih Ahok adalah nyata-nyata praktek demokrasi buah semangka yang akan menghasilkan anarki kekuasaan Tirani minoritas pada mayoritas.

PROSES PRESPEKTIF

Amandemen UUD 45 menjadi UUD 2002 telah merubah sistem demokrasi kerakyatan menjadi demokrasi sekularistik borjuis, kelompok tertentu yang memiliki agenda untuk merubah alam demokrasi Indonesia dari demokrasi religius menjadi demokrasi tiran.

Proses ini mereka lewati dengan mulus. Kelompok tiran dan kelompok ideologi kiri ini telah berhasil merubah UUD 45 yang sangat monumental. Agenda berikutnya adalah kelompok minoritas dan kelompok ideologi kiri akan mengambil alih kekuasaan secara konstitusional, tentu konstitusional versi kelompok ini. Inilah yang saya sebut demokrasi buah semangka yaitu dalamnya merah (komunisme sekularistik, atheis, minoritas) dan luarnya hijau, yaitu kelompok Islam dan TNI.

Kelompok Islam dan TNI hanya menjadi legitimasi politik kekuasaan yang memang menghasilkan kekuasaan politik konstitusional.

Umat Islam dan TNI harus sadar bahwa praktek politik, praktek konstitusional dan praktek demokrasi saat ini telah mengarah pada kekuasaan Tiran.

Kekuasaan Tirani minoritas pada mayoritas akan sangat membahayakan bangsa Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Oleh karena itu, untuk menghentikan ketegangan politik, serta praktek-praktek demokrasi buah semangka, bangsa Indonesia kembalilah pada UUD 45 asli, serta laksanakan demokrasi berdasarkan ideologi Pancasila.

Tapi, saya yakin TNI pasti telah mengetahui ancaman buah semangka ini.

Habil Marati (DPR RI 1999-2009)