Kedzaliman, Pintu Perubahan

Ilustrasi. [credit: bbc.com]

Perubahan itu sunnatullah, sesuatu yang pasti terjadi. Tak ada yang tidak mengalami perubahan, termasuk rezim, bahkan sistem. Mau dipertahankan dengan cara apapun, kalau sudah saatnya berubah, maka perubahan tak akan bisa dihindari.

Perubahan, sebagaimana kejadian lain, meski merupakan sunnatullah, terjadi dengan mekanisme dan pola tertentu yang teratur.

Saat rezim berkuasa, biasanya merasakan dua hal sekaligus: kenikmatan sekaligus ketakutan. Mereka mendapatkan kenikmatan karena “semua fasilitas dunia” didapatkan nyaris tanpa usaha. Namun, selain kenikmatan, mereka juga merasa ketakutan bahwa kekuasaannya akan berakhir. Apalagi jika di luar rezimnya ada orang atau sistem yang berpotensi mengakhiri kekuasannya.

Lalu mereka berusaha sekuat tenaga membungkam orang atau menghancurkan sistem yang berpotensi menggantinya. Dan pada saat ketakutannya semakin meningkat, kebijakan dan tindakannya semakin tidak rasional dan semakin dzalim.

Mereka lupa bahwa semakin mereka berbuat dzalim, maka rakyat semakin tidak simpati kepada mereka dan semakin melepaskan kepercayan terhadapnya. Artinya, semakin mereka berusaha mempertahankan kekuasaannya, justru semakin dekat dengan kehancuran kekuasaannya.

Hal ini mirip dengan semua problem psikis lainnya. Semakin takut kalah, orang biasanya semakin tegang sehingga membuatnya tidak lincah, justru akhirnya membuatnya kalah. Semakin takut salah, orang biasanya semakin panik dan justru membuatnya semakin salah.

Jadi, tindakan dzalim sebuah rezim sebetulnya adalah tindakan menggali kuburnya sendiri. Semakin mereka berbuat dzalim berarti semakin dalam mereka menggali tempat peristirahatan terakhirnya.

*****

Jika kedzaliman dilakukan oleh rezim dan benar-benar dirasakan umat, maka umat akan segera mencabut mandatnya dan memberikan kepada rezim lain yang dianggap lebih berpihak kepada umat.

Jika kedzaliman dilakukan oleh sistem dan benar-benar dirasakan umat, maka umat juga akan segera mencabut mandatnya dan memberikan kepada sistem lain yang dipahami akan memberikan keadilan dan menjauhkan kedzaliman dari umat.

Namun, memahami kedzaliman sistem itu lebih sulit dan lebih butuh waktu lama, dibanding memahami kedzaliman rezim. Memahami sistem pengganti juga lebih sulit memahami rezim pengganti.

Memahami kedzaliman sistem butuh pemikiran yang cemerlang, perasaan yang peka, daya ingat yang kuat, dan panduan ideologis yang jelas.

Tanpa semua itu, umat akan selalu lupa apa yang menimpanya. Mereka hanya dilenakan oleh perasaan bahwa rezim sekarang sangat dzalim, tapi tak pernah ingat bahwa rezim sebelumnya sama dzalimnya, dan tidak sadar bahwa rezim yang akan datang juga tidak kalah dzalimnya.

Mereka hanya dilenakan oleh perasaan, bahwa rezim sekarang sangat dzalim, lalu membayangkan bahwa rezim sebelumnya lebih enak. Begitu rezim berganti, perasaannya tetap tdk berubah, yaitu bahwa rezim yang ada lebih dzalim dan lebih enak hidup pada rezim sebelumnya. Begitu seterusnya tanpa berkesudahan. Setiap rezim berganti, maka rezim lama tersenyum sinis sambil berkata: “enak zamanku to?”.

Di sinilah pentingnya kesadaran ideologis, sehingga umat mampu memahami hakikat yang terjadi. Jika memang memang yang dibutuhkan hanya pergantian rezim, maka rezim perlu diganti dan insya Allah kehidupan akan berjalan lebih baik.

Namun, jika sebetulnya yang dibutuhkam adalah pergantian sistem, maka pergantian rezim tak ubahnya hanya mengganti sopir pada bus yang rem-nya blong. Sopir dengan gaya yag kalem mungkin terasa aman dan nyaman saat melaju di jalan datar, lurus dan sepi. Tapi, kecelakaan yang fatal akan terjadi saat melaju di jalan yang curam dan berkelok-kelok. Pada titik itu, hampir tidak ada bedanya sopir yang kalem atau yang ugal-ugalan. Sebab masalahnya bukan di sopirnya, tetapi di sistemnya.

Oleh karena itu, umat harus bisa mengidentifikasi bahwa yang terjadi apakah sekedar kedzaliman rezim atau kedzaliman sistem.

Jika yang terjadi hanya kedzaliman rezim, maka perlawanan pada rezim perlu dilakukan. Dan rezim itu insya Allah akan segera diganti dengan rezim lain yang lebih baik.

Jika yang terjadi adalah kedzaliman sistem yang ditandai dengan kedzaliman rezim secara luar biasa, maka perlawanan harus diarahkan kepada sistem. Rezim harus dilawan, namun bukan sekedar menggati rezim, tapi dalam rangka membongkar rezim sekakigus sistem yang menaunginya. Dengan perlawanan yang tepat tsb, maka kedzaliman sistem akan berhasil dirobohkan dan diganti dengan sistem yang memancarkan keadilan.

Bagaimanapun juga, kedzaliman rezim atau sistem akan terdeteksi dengan jelas oleh umat, lambat atau cepat.

Memang bukan sekedar kedzaliman yang akan membuat perubahan. Yang membuat perubahan adalah kesadaran umat akan adanya kedzaliman, ditambah lagi kesadaran terhadap sistem penggantinya.

Jika umat sudah sadar, secara alamiah, umat akan melawannya dan akhirnya kedzaliman itu tumbang, baik itu rezim atau sistem. Dan biasanya proses perubahan itu sangat mengharukan. Sejarah pelaku perubahan akan dicatat dengan tinta emas unk dikisahkan kepada generasi-generasi yang akan datang.

Choirul Anam