Saat Lelah Melanda

Waktu menunjukkan pukul 20.50 saat aku tiba di rumah malam ini. Setelah bersih-bersih dan ngobrol beberapa menit bareng anakku, mata mulai gak bisa diajak kompromi. Lelah amat sangat. Yah..sudah saatnya memenuhi hak badan, beristirahat. Sempat kulirik note di meja ‘things to do’ hari ini. Ternyata masih banyak yang belum kukerjakan. Mengerjakan proposal kegiatan yang baru kerangkanya saja, menu masakan seminggu, ngerapihin catetan SPP anak2, membungkus kado,  bikin jadwal kegiatan ibu2 majelis taklim, ngeberesin barang dagangan  (napsu besar tenaga kurang…hiks). Tapi lagi2 rayuan pulo kapuk lebih menarik dibanding berlama2 di depan meja tulis kayu di kamarku. Membayangkan besok subuh harus kembali berkutat dengan rutinitas membuat kelelahan bertambah2.

Dengan mata yang tinggal 2 watt dan sudah hampir setengah mimpi, tiba-tiba teringat kisah yang diceritakan ustadz Abdurrahman saat pengajian kamis pagi pekan lalu yaitu tentang putri Rosulullah saw (Fatimah) yang pernah mengeluh kepada suaminya, Ali. Ia merasa bahwa pekerjaan menggiling gandum dengan batu demikian berat baginya. Suatu ketika, Fatimah mendengar bahwa Rasulullah mendapat seorang budak. Fatimah pun mendatangi rumah ayahnya dalam rangka meminta budak tadi sebagai pembantu baginya. Akan tetapi Rasulullah sedang tidak ada di rumah.

Fatimah lantas mendatangi ummul mukminin Aisyah dan menyampaikan hajatnya. Ketika Rasulullah berada di rumah Aisyah, ia menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah. Rasulullah lantas mendatangi kami (Ali dan Fatimah) saat kami telah berbaring di tempat tidur. Mulanya, kami hendak bangun untuk menghampiri beliau, namun beliau menyuruh kami tetap berada di tempat.
“Maukah kutunjukkan kalian kepada sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian minta?” tanya beliau. “Jika kalian berbaring di atas tempat tidur, maka ucapkanlah takbir (Allahu akbar) 34 kali, tahmid (alhamdulillah) 33 kali, dan tasbih (subhanallah) 33 kali. Itulah yang lebih baik bagi kalian daripada pembantu yang kalian minta.” lanjut Nabi (HR. Bukhari dan Muslim).

Semenjak mendengar petuah Rasulullah tadi, Ali tak pernah lalai meninggalkan wirid tadi.

Tahukah Anda, apa yang sebenarnya dikeluhkan oleh Fatimah? Beliau mengeluh karena kedua tangannya bengkak akibat terlalu sering memutar batu penggiling gandum yang demikian berat. Subhanallah, ternyata puteri tercinta Rasulullah demikian berat ujiannya. Pun begitu, beliau tak segera memenuhi keinginan puterinya tadi. Namun beliau mengajarkan sesuatu yang lebih bermanfaat baginya dari seorang pembantu. Sesuatu yang menjadikannya semakin dekat dan bertawakkal kepada Allah. Itulah wirid pelepas lelah.

Mengapa wirid tadi lebih baik dari pembantu? Menurut al-Hafizh Badruddien al-‘Aini, alasannya ialah karena wirid berkaitan dengan akhirat, sedangkan pembantu berkaitan dengan dunia. Dan tentunya, akhirat lebih kekal dan lebih afdhal dari dunia. Atau, boleh jadi maksudnya ialah bahwa dengan merutinkan bacaan wirid tadi, keduanya akan mendapat kekuatan lebih besar untuk melakukan berbagai pekerjaan; melebihi kekuatan seorang pembantu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga berpendapat senada. Menurut beliau, siapa yang rajin membaca wirid tadi di waktu malam, niscaya tidak akan kelelahan.

Detik itu juga saya bertekad untuk mengamalkan hadits tersebut, dengan harapan kelelahan di dunia bernilai ibadah di sisi Allah. Dunia memang tempatnya berlelah-lelah, adapun akhirat adalah tempat menuai hasilnya. Bagaimana dengan Anda?

Hana Nurliana