Sepatu Halal dan Sepatu Haram

Beberapa waktu yang lalu ketika saya window shoping di salah satu mall di KL sempat tertegun melihat ada pemisahan etalase antara sepatu halal dan non halal di salah counter sepatu kets/sneaker ternama. Kok ada sepatu non halal yaa…akhirnya saya mencoba untuk mencari tahu lebih jauh lagi. Ternyata sepatu yang non halal tersebut terbuat dari kulit babi. Dari produsen sepatu tersebut memang sudah mencantumkan keterangan kalo sepatu tersebut terbuat dari kulit babi. Hal penting seperti ini sering luput dan tidak terpikirkan oleh kita. Jangan jangan sepatu yang kita pakai tidak halal. Bukan karena hasil dari mencuri, tetapi karena terbuat dari bahan yang non halal.

Beda dengan disini, di Negara yang mayoritas muslim. Saya sempat bertanya kepada penjaga toko di salah satu Mall ternama di Bekasi. Mas ini sepatu halal apa non halal? Eeh malah dia bengong. Mungkin pikirannya ini orang aneh aneh aja nanyain sepatu halal apa nggak? Bakso kali… Akhirnya dengan hati hati saya periksa ternyata sepatu tersebut terbuat dari kulit babi. Labelnya jelas. Kasian pelanggan pelanggan muslim disini tidak dilindungi hak-haknya. Bahkan sering ketika pelanggan ingin mendapatkan haknya dianggap aneh dan direspon dengan nyinyir.

Saya sempat ngobrol dengan Abuya Kyai Nur guru saya. Banyak topik yang sempat dibicarakan dan salah satunya adalah terkait apakah kita ummat Islam sudah perduli dengan bahan pakaian kita? Kalo urusan bersih dari najis atau halal dari cara mendapatkannya sih kita sudah bisa memberikan jawabannya? Tapi kalo untuk menjawab pertanyaan apakah pakaian, bahkan karpet tempat kita shalat tidak mengandung bahan atau zat yang diharamkan paling paling kita menjawab wallahu ‘alam. Kita harus membangun dan meningkatkan kesadaran kita akan hal tersebut. Tidak ada yang sulit kalo semua pihak peduli, ya konsumen, ya produsen, ya pemerintah, ya MUI dengan instrumennya.

Kita jangan sinis atau nyinyir kalo ada pengusaha yang mensertifikasi halal atas produknya, karena ingin memberikan kepastian kepada konsumen. Begitupun kita sebagai konsumen jangan malu atau ragu untuk meneliti kehalalan produk yang akan kita beli, karena kalo kita tidak peduli siapa lagi. Jangan kita hanya baru bereaksi ketika tulisan الله ada dialas kaki. Kita mesti dukung semua hal yang akan menjadikan kita lebih baik dunia akhirat.

By : Syamsul Falah