Memprovokasi Logika, Menguatkan Tauhid

Habib Rizieq. [foto: mojok.co]

Kabar diperkarakannya Habib Rizieq Shihab karena isi ceramahnya dalam pengajian, membuat kening banyak pihak mengkerut. Pasalnya, apa yang disampaikan Habib Rizieq adalah kandungan aqidah dalam ajaran Islam. Dan beliau pun menyampaikannya terbatas, dalam pengajian yang hanya diikuti oleh umat Islam. Bukan forum terbuka untuk umum.

Pada Pasal 1 UU 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, ada kata-kata “di muka umum”. Saya masih ingat, dalam salah satu episode Indonesia Lawyer Club (ILC), pakar hukum menjelaskan bahwa pengajian terbatas untuk penganut agama tertentu tidak termasuk yang diatur dalam pasal ini. Karena pengajian seperti itu untuk kalangan terbatas, bukan umum.

Saya belum mendapat info lebih jelas kalimat apa yang dipermasalahkan. Di pengajian itu, Habib Rizieq mengatakan bahwa Tuhan tidak beranak dan tidak diperanakkan. Apakah itu yang diprotes? Itu kan ayat Al-Qur’an dalam surat Al-Ikhlas.

Atau kalimatnya, “Kalau tuhan dilahirkan, siapa bidannya?” Ada yang menganggap bahwa Habib Rizieq melanggar perintah Allah dalam Al-Qur’an surat Al-An’am 108 dengan kalimat itu.

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan” (QS. Al An’am: 108).

Apakah yang dikemukakan Habib Rizieq itu sebuah caci maki? Saya rasa bukan. Habib Rizieq hanya menyampaikan pertanyaan retoris sebagai penguat dalil bahwa Tuhan tidak diperanakkan. Dan audiennya adalah umat Islam yang menganut doktrin bahwa Tuhan tidak diperanakkan. Habib Rizieq tidak sedang berbicara kepada pemeluk agama lain. Dalam kalimat itu pun tidak ada kata-kata kasar. Hanya pertanyaan memprovokasi logika sebagai penguat Tauhid.

Bertanya dengan cara seperti itu sejatinya sudah dilazimkan para nabi sejak dulu.

Logika Ibrahim

Apakah Tuhan itu sesuatu yang bisa tenggelam? Dan Ibrahim a.s. pun berdakwah dengan cara yang kreatif, memprovokasi logika umatnya.

Di suatu malam, setelah melihat sinar bintang yang mampu menembus gelap, ia mendeklarasikan bahwa bintang itu tuhannya. Namun ketika pagi datang, keberadaan bintang itu tak lagi terlihat, Ibrahim a.s. pun menarik ucapannya.

Di malam berikutnya, kilau bulan terlihat begitu memikat. Lalu Ibrahim a.s. pun mendeklarasikan bahwa bulan lah tuhannya. Namun ketika pagi datang, bulan tak terlihat. Kembali ia tarik ucapannya dengan ekspresi kecewa.

Lantas karena matahari begitu benderang dibanding bintang dan bulan, Ibrahim a.s. pun menyatakan bahwa matahari lah tuhannya. Namun, lagi, karena tenggelam, matahari dianggap tak pantas menjadi tuhan.

Hingga kemudian Ibrahim a.s. memperkenalkan Allah swt sebagai pencipta langit dan bumi kepada umatnya. Itu lah Tuhan yang benar yang tak kan pernah tenggelam.

Kisah ini bisa dilihat pada Al-Qur’an surat Al-An’am 73-83.

Pada kisah lain, Ibrahim a.s. mendebat Namrud soal ketuhanan. Dan yang dilakukan oleh Ibrahim a.s. adalah mengajukan pertanyaan yang membuat Namrud menganga tak dapat menjawab.

Ibrahim a.s. menghadapi Namrud dengan klaim bahwa Allah swt yang menciptakan kehidupan dan kematian. Namrud menjawab bahwa ia juga bisa menghidupkan dan mematikan. Ia beri makan seseorang hingga kehidupannya berlangsung, dan ia bunuh orang lain untuk menunjukkan ia juga bisa mematikan.

Lalu Ibrahim balik membalas, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” tantang Ibrahim a.s. Dan tak berkutiklah Namrud. (Lihat QS 2: 285).

Sayangnya, Namrud yang telah didebat dengan logis oleh Ibrahim a.s., bersikukuh dengan rasa percaya bahwa ia adalah tuhan.

Pembaca tentu juga tahu kisah Ibrahim a.s. yang dituduh menghancurkan berhala-berhala kaumnya di sebuah kuil. Memang beliau yang melakukannya. Disisakan sebuah berhala yang besar, lantas senjata yang dipakai Ibrahim a.s. dikenakan kepada berhala itu. Ketika Ibrahim a.s. diseret ke pengadilan, ia pun menantang kaumnya bertanya langsung kepada berhala tersebut. Tentu kaumnya tahu bahwa berhala itu tidak bisa berbicara atau bergerak. Dan dengan cara itu Ibrahim a.s. memprovokasi logika umatnya bahwa apa yang mereka sembah selama ini adalah sesuatu yang tak punya kemampuan apa-apa.

Logika Al-Qur’an

Luar biasa berangnya orang kafir penyembah berhala saat Allah swt membuat perumpamaan yang memprovokasi logika mereka. Mereka terguncang. Mereka melihat kebenaran. Tapi sikap fanatik terhadap berhala membuat mereka terhalang dari taufik Allah swt.

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?.” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.” (QS Al-Baqarah: 26)

Perumpamaan yang mereka anggap menistakan agama mereka adalah ayat Al-Qur’an surat Al-Hajj 73 yang berbunyi seperti berikut:

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.”

Ya, hanya dengan perumpamaan lalat. Apakah para berhala itu lebih punya daya dan kuasa dibanding lalat? Pertanyaan itu membuat orang kafir tersinggung. Meski logika mereka mengakui kebenaran perumpamaan itu, tapi hati yang tertutup tak mampu menerima hidayah.

Dan ada banyak contoh lain provokasi logika yang menguatkan tauhid.

Saya rasa, Habib Rizieq hanya mengajak umat muslim berfikir agar keyakinan mereka bertambah kuat. Memang tiap agama berbeda fundamental konsep teologisnya. Jadi biarkanlah tiap umat beragama mempertajam pemahaman ajaran masing-masing, selama porsinya hanya untuk kalangan sendiri.

Zico Alviandri