Bahasa Kalbu

Entah apa yang ingin aku  tuliskan, karena aku ingin membiarkan kalbuku yang bicara.

Seiring perjalanan kehidupanku sebagai seorang muslim, baru peristiwa demo 212 ini   perasaan hatiku sangat berkecamuk, bergemuruh , menghentak – hentak kalbuku yang akhirnya menguras air mataku.

Berita ketulusan umat Islam Ciamis yang ikhlas berjalan ratusan kilo. Mereka berjalsn bukan karena ingin mendapat gelar juara terus mendapat piala. Tapi mereka berjalan untuk menunjukkan jati diri seorang hamba kepada Sang PenciptaNya.

Ketulusan mereka telah mendobrak hati setiap hamba yang beriman. Tak sedikit yang berlinangan air mata karena rasa simpatiknya, merasa diri lemah tidak bisa seperti mereka , ingin segera menyalurkan hartanya sebagai wujud cinta bahkan ada yang mendedikasikan diri ingin seperti mereka.

Ketulusan tidak sama dengan pencitraan. Ketulusan menggerakkan hati hati manusia yang masih ada getaran iman yang ada di dada.

Orang boleh bicara ini karena ditunggangi unsur- unsur politik, ada yang membayar  dsb. Tapi yakinlah semua yang muaranya selain Allah tidak akan mungkin mampu mengumpulkan 7 juta umat Islam dari seluruh Indonesia.

Mereka adalah pejuang kebenaran sejati, karena hanya Allah menjadi tujuan sanubari. Karena hanya hati yang tuluslah yang mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak.

Islam adalah agama kalbu. Karena iman yang ada di hatilah yang mampu melakukan amal yang berat jadi ringan, yang susah jadi mudah, yang mustahil menjadi nyata.

Hati harus semeleh…hati yang tunduk kepada Allah akan siap diatur sang pemilik hati. Maka merawat hati jauh lebih penting dari pintarnya logika bicara dan sehatnya raga.

Ya Rabb …Engkaulah yang membolak balikkan hati ini.
Hamba bersimpuh kepadaMu,  tetapkanlah hati ini dalam taat kepadaMu. Luruskanlah hati kami jika bengkok, lembutkanlah hati kami jika keras dan bersihkanlah hati kami bila kotor. Aamiin…

Cikarang 05122016

Ratih DH Putri
Relawan Literasi Kabupaten Bekasi