Aksi 411, Donald Trump dan Dunia Simulacra

Jumat, 4 November. Sekitar 2 juta umat Islam berunjuk rasa di Istana Negara. Mereka mendesak Presiden Joko Widodo segera memproses hukum Ahok yang telah menista Al Quran. Aksi people power tersebut–meminjam istilah Denny JA–berjalan damai dan tertib.

Kebetulan saya ada di lokasi, sepanjang demonstrasi terdengar seruan agar tak terpancing provokasi dan tidak menginjak taman. Kebersihan pun terjaga karena ada pasukan khusus yang bertugas menyapu sampah yang berserakan. Tak kepalang tanggung, Aa Gym yang menjadi komandannya.

********

Rabu, 9 November. Kerusuhan merebak di negeri Paman Sam dalam demonstrasi menentang terpilihnya Donald Trumph sebagai Presiden Amerika Serikat (AS). Hingga Jumat, unjuk rasa terus berlangsung dan makin meluas. Mulai dari Washington, District of Columbia, New York, Minneapolis, Texas, Chicago, Boston, Philadelphia, Los Angeles, San Francisco dan sebagainya.

Sejumlah kendaraan dan fasilitas umum rusak di kawasan pantai barat dan timur AS. Dilansir Al Jazeera, ribuan pendemo melempar sejumlah objek ke anggota polisi yang melakukan penjagaan di Portland, Oregon. Sumber kepolisian Portland mengatakan pendemo juga merusak tempat parkir.

“Sejumlah pendemo juga dilaporkan melakukan vandalisme dengan melukis grafiti di mobil-mobil dan bangunan serta merusak jendela toko,” sebut media lokal di Portland.

Sedikitnya 28 demonstran ditangkap di Los Angeles setelah memaksa masuk ke dalam jalan tol 101 Freeway. Juru bicara kepolisian Los Angeles, Liliana Preciado, seperti dilansir CNN menyebut, sedikitnya 3 ribu orang ikut dalam aksi protes pada Rabu (9/11) waktu setempat. Ada sejumlah kerusakan properti akibat aksi protes ini. Wali Kota Los Angeles Eric Garcetti pun mengimbau demonstran untuk tidak rusuh dan membahayakan orang lain.

*******

Paradoks. Begitulah kondisi yang terjadi di Indonesia dan AS. Apa yang dipertontonkan umat Islam dan rakyat AS dalam menyalurkan aspirasinya di jalanan bertolak belakang dan tak menggambarkan citra yang selama ini terbangun.

AS kerap dianggap sebagai kampiun demokrasi. Mereka sudah matang dalam menerapkan praktek demokrasi dalam kehidupan bertatanagara dan bermasyarakat. Dunia pun diminta untuk belajar berdemokrasi dari AS.

Umat Islam diopinikan sebagai kelompok yang anti demokrasi. Mereka identik dengan kekerasan, anarkisme, dan vandalisme. Stigma teroris pun dilekatkan padanya. Pendek kata, umat Islam perlu belajar banyak soal demokrasi.

Fenomena ini mengingatkan saya pada sosok Jean Baudrillard (1929-207) pemikir post-strukturalisme yang memperkenalkan konsep dunia simulasi. Menurutnya,
beragam tampilan bercitra indah dihadirkan di pentas seolah nyata tetapi sejatinya sarat rekayasa. Dalam dunia simulasi semacam ini berlaku hukum simulacra, yaitu “daur ulang atau reproduksi objek dan peristiwa”. Objek atau peristiwa itu diperagakan seakan sama atau mencerminkan realitas aslinya, tetapi sesungguhnya maya atau hanya fantasi.

Kata Baudrillard, “Sungguh, sulit memperkirakan hal-hal yang nya
aslinya, tetapi sesungguhnya maya.”

Sebaliknya kata dia lagi,” Sungguh sulit memperkirakan hal-hal yang nyata dari hal-hal yang menyimulasikan yang nyata itu.”

Baudrillard mencontohkan media massa yang menurutnya lebih banyak menampilkan dunia simulasi yang bercorak hiperrealitas, suatu kenyataan yang dibangun oleh media tetapi seolah benar-benar realitas. Media tidak lagi mencermirkan realitas, bahkan menjadi realitas itu sendiri.

Kita bisa menyaksikan bagaimana media mendramatisasi sebuah peristiwa yang pada realitasnya tak sesuai dengan apa yang diberitakan. Kabar soal umat Islam yang diopinikan sebagai anti demokrasi dan AS sebagai kiblat demokrasi pada akhirnya adalah sebuah realitas semu yang tak lain hanyalah permainan dalam dunia Simulacra. Aksi 411 dan respon penolakan rakyat AS terhadap terpilihnya Donald Trump menjadi jawabannya.

Erwyn Kurniawan
Writer and Trainer
FB: Erwyn Kurniawan
Twitter: @Erwyn2002