Pak Ahok, Bahkan Jika Anda Muslim Sekalipun, Saya Tak akan Memilih Anda

Pak Ahok, mohon izin saya menulis surat terbuka ini kepada Anda. Isinya bukan mencaci maki dan menghina, lalu mengajak masyarakat untuk tidak memilih Anda karena status Anda sebagai non muslim.

Bagi saya, soal Anda yang kafir tak perlu dibahas berlarut-larut. Cukup sampai disini, tak perlu dilanjutkan hingga menjelang detik-detik Pilgub DKI Jakarta 2017.

Bukan karena saya tak setuju dengan alasan banyak pihak yang mengampanyekan tidak boleh memilih pemimpin kafir. Sebagai seorang muslim, tentu saja saya sepakat. Selama ada orang muslim yang lebih baik,
maka kita harus memilihnya sebagai pemimpin. Semuanya jelas dan tak perlu diperdebatkan lagi.

Dan bagi saya, stok pemimpin muslim yang dapat menjadi gubernur DKI Jakarta itu banyak sekali, bahkan bisa jadi kemampuannya jauh melebihi Anda meski media arus utama semacam detik, kompas, metro tv berusaha menihilkannya. Jadi sampai disini cukup jelas Pak Ahok. Bahwa saya tak akan memperpanjang soal agama yang Anda anut.

Alasan saya sederhana. Jika isu agama ini terus saja memadati ruang publik, maka akan banyak hal lain yang tenggelam. Mulai dari kinerja, kesantunan dan gaya kepemimpinan Anda. Padahal, ketiga hal ini tak kalah pentingnya.

Tentang kinerja Anda. Apa yang bisa Anda berikan kepada warga Jakarta? Jalanan makin macet, banjir tetap terjadi meski media pendukung Anda mencoba melakukan eufimisme dengan istilah”genangan”. Angka kriminalitas tetap tinggi, kesenjangan juga tak berubah. Mimpi Jakarta Baru yang Anda usung bersama Jokowi saat Pilgub 2012 menguap entah kemana.

Mungkin Anda akan balik bertanya kepada saya. “Show it, don’t tell it.” Tapi saya bisa menjawabnya pula dengan mudah. Jangan mencari fakta kegagalan Anda di media arus utama yang jelas-jelas menjadi “die hard” Anda. Alih-alih menemukan ketidakberhasilan Anda, kita justru akan disuguhi soal kehebatan Anda yang bahkan bisa berujung pada mitosisasi.

Tentang kesantunan Anda. Ah, sudah banyak pihak yang mengulasnya. Saya sendiri pernah menulis artikel berjudul:
Ahok dan Verbal Aggression: Tahapan Masa Kecil yang Tak Tuntas? (kabarumat.com). Tak perlu saya membahasnya lagi. Pendek kata, mulut Anda tak pantas mengeluarkan kata-kata makian nan kotor dan menyeramkan, bahkan walau Anda bukan pemimpin sekalipun.

Tentang gaya kepemimpinan Anda. Jujur, sangat menyedihkan melihatnya. Seorang kawan mengirimkan gambar judul-judul berita media online. Sedihnya, semuanya berisikan komentar Anda yang dengan mudahnya menyalahkan pihak lain saat ada masalah di Jakarta. Paling mutakhir: Anda menyalahkan sisa kulit kabel yang menjadi penyebab banjir di Istana Negara. Sabotase, teriak Anda.

Jadi, terlalu banyak soal diluar agama yang membuat saya tak memilih Anda sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta.Belum lagi soal dugaan korupsi pembelian lahan RS Sumber Waras yang terang-benderang melibatkan Anda sebagai aktornya.

Karena itu saya tak mau terjebak pada propaganda:

“Saya muslim, karena itu saya tak mau memilih Ahok.”

“Saya muslim dan saya mendukung Ahok.”

“Nama saya Al Ghazali, dan saya tidak mungkin memilih Ahok.”

Saya mohon izin kepada Anda di akhir surat ini untuk berkata:

“Pak Ahok, Bahkan, jika Anda muslim sekalipun, saya tak akan memilih Anda.”

Erwyn Kurniawan
Penulis