Pluralisme: Keseragaman Berkedok Keberagaman

Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Moh. Natsir, Bandung, kembali digelar pada hari Kamis ba’da maghrib, 3 Maret 2016 di Ruang Seminar Gedung Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Jawa Barat. Tema yang diangkat pada perkuliahan yang telah mencapai minggu kesepuluh ini adalah “Pluralisme Agama” dengan pemateri Ustadz Akmal Sjafril.

Perkuliahan dimulai dengan pemaparan bahwa tidak banyak pakar yang mendefinisikan pluralisme. Penulis buku Islam Liberal 101 ini menjelaskan definisi pluralisme yang digunakan oleh para aktivisnya di Indonesia seperti Nurcholis Majid, Ahmad Fuad Fanani, Trisno S. Sutanto, dan lain-lain. “Lucunya, kesemua definisi yang mereka buat tidak menggambarkan pluralisme secara jelas, alias menjadi definisi yang masih perlu pendefinisian karena tidak jelas.”

Penceramah yang juga dikenal dengan nama Abu Afnan ini mengkritik definisi oleh setiap “ahli” tersebut. “Ada yang mengatakan bahwa pluralisme adalah bukan X dan bukan Y, juga bukan Z. Penjelasan semacam itu bukanlah sebuah definisi. Ada pula yang mendefinisikannya sebagai ‘cara merayakan buah kehidupan’. Maksudnya apa?” tantangnya.

Lebih lanjut, aktivis #IndonesiaTanpaJIL (ITJ) ini menjabarkan beberapa efek yang diakibatkan pluralisme, salah satunya adalah pluralisme formalistik. Dengan memberikan contoh kasus kaum pendukung LGBT, beliau menjelaskan, “Mereka (pendukung LGBT) bersuara seolah-olah mendukung keberagaman. Namun, disadari atau tidak, mereka malah menggiring pemikiran kita kepada keseragaman, yaitu kesamaan pemikiran dengan mereka bahwa LGBT itu harus dibiarkan.”

Materi ini diakui sangat penting oleh salah satu peserta, Ibu Mutia Widjaja. “Ternyata, pluralisme agama tidak memiliki kaitan apapun dengan ajaran toleransi dalam Pancasila. Justru, dampaknya terjadi pemaksaan kehendak untuk berpaham bahwa setiap agama adalah sama. Hal ini jelas bertentangan dengan the worldview of Islam karena jelas difirmankan Allah dalam Al-Qur’an bahwa agama yang diridhoi-Nya hanyalah Islam,” pungkasnya.

Harashta T.L.