Pengaburan Sejarah: Upaya Propaganda Nativisasi

Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Moh. Natsir, Bandung, mengadakan kembali kuliah pekanan pada Kamis malam (25/02/16). Bertempat di Ruang Seminar Besar Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Jawa Barat, Dr. Tiar Anwar Bachtiar tampil memaparkan kuliah “Nativisasi” kepada puluhan peserta yang hadir, dimulai pada pukul 18.45 WIB

Mengawali perkuliahan, Tiar mengingatkan agar umat Islam mempelajari sejarah berdasarkan fakta dan sumber yang benar, serta bersikap kritis terhadap berbagai cerita sejarah. Dosen Pascasarjana di Universitas Ibn Khaldun Bogor (UIKA) ini menjelaskan sekelumit fakta-fakta sejarah yang berkaitan dengan berbagai upaya de-Islamisasi Nusantara oleh kaum sekuler yang sudah berlangsung sejak awal masuknya penjajah Barat di Nusantara.

Kolonialisme Belanda adalah pihak yang paling bertanggung jawab dalam menyebarkan upaya kristenisasi intensif dan pemikiran sekularisme dengan segala variannya, antara lain paham Humanisme yang dipropagandakan oleh Freemason. “Jadi, sekularisme itu bukanlah paham baru yang baru-baru ini saja dipopulerkan oleh Ulil dan kawan-kawannya, tapi memang sudah ada sejak awal Belanda masuk Nusantara,” tegas Tiar. Selain kedua propaganda itu, nativisasi merupakan tantangan besar lainnya terhadap dakwah Islam di Nusantara.

Nativisasi adalah usaha-usaha untuk mengembalikan pemikiran-pemikiran orang Indonesia kepada sesuatu yang dianggap ’native’ atau ‘asli’, dan usaha-usaha dari propaganda nativisasi ini terwujud sebagai Hinduisasi. Kota Purwakarta adalah contoh terkini dari upaya nativisasi.

Menurut penulis buku Lajur-Lajur Pemikiran Islam ini, “Nativisasi atau hinduisasi dilakukan melalui pengajaran dan penulisan sejarah di Indonesia karena sejarah menempati posisi penting dan strategis untuk menyebarkan suatu ideologi. Sayangnya, pengetahuan sejarah masyarakat Indonesia pada umumnya rendah, hanya sebatas apa yang didapat di bangku-bangku sekolah.”

Akibatnya, kata Tiar lagi, “Kecenderungan sikap kritis berbagai cerita sejarah sangat lemah. Pelajaran sejarah di sekolah-sekolah tak jarang dipenuhi mitos yang diciptakan oleh penguasa baru, dan mengabaikan penemuan fakta-fakta baru demi kepentingan kehendak penguasa,” paparnya.

Tiar memberikan contoh Thomas Stanford Raffles sebagai orientalis pertama yang mengembangkan teori bahwa Hindu adalah akar dari Jawa dalam bukunya yang berjudul The History of Java. Selain itu, Tiar juga mengkritisi penggunaan Candi Borobudur sebagai ikon Indonesia.

Pada sesi tanya jawab, peserta mengajukan berbagai pertanyaan maupun meminta pandangan narasumber secara pribadi terhadap isyu terkait Nativisasi. Isa Salsabil, salah seorang peserta memberikan komentarnya secara khusus, “Pikiran saya jadi semakin terbuka dan lebih memahami bahwa ternyata sejarah Islam telah banyak dibelokkan untuk kepentingan tertentu terutama kaum sekuler. Terlebih, sejarah Indonesia yang selama ini saya anggap sesuatu yang ‘epik’ ternyata banyak mengaburkan perjuangan umat Islam. Umat Islam didiskreditkan melalui berbagai peristiwa sejarah yang ternyata ‘palsu’ dan digunakan untuk memecah-belah umat Islam,” demikian pungkasnya.

Mutia K. Widjaja