Hermeneutika: Filsafat Bahasa Alat Bidik Autensitas Wahyu dan Al-Qur’an

Kamis malam (18/02/2016) Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Moh. Natsir Bandung kembali menggelar kuliah pekanan di Ruang Seminar Besar Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Jawa Barat. “Konsep Wahyu dan Kenabian dalam Islam” adalah tema yang diangkat kali ini dengan narasumber seorang doktor lulusan Program Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor, Dr. Nashruddin Syarief. Perkuliahan baru dimulai setelah jam 19.00 dan dihadiri oleh 35 peserta.

Menurut Nashruddin, Islam memiliki konsep wahyu dan konsep kenabian yang jelas sehingga sangat penting dipahami oleh umat Islam karena kedua konsep itu menegaskan eksistensi Islam secara mendasar. “Sebetulnya kuliah ini berangkai dengan hermeneutika, suatu metode yang sering dipakai kaum liberal untuk ‘menembak’ Al-Qur’an sebagai (kitab suci yang) tidak autentik. Kaum liberal berupaya mendekonstruksi wahyu dan Al-Qur’an melalui hermeneutika yaitu filsafat Barat tentang bahasa, dikarenakan cara pandang mereka yang anti-wahyu dan tidak memahami cara pandang Islam. Mereka tidak paham apa itu wahyu, nabi, rasul, hadits, sanad. Worldview mereka berbeda,” tuturnya.

Lebih lanjut, dosen STAI Persis Garut ini menjelaskan bahwa salah satu upaya kaum liberal adalah mengaburkan ajaran Islam dengan mengaburkan definisi dari konsep-konsep kunci. Terkait wahyu, mereka justru malah mengambil pengertian Kristen, yaitu bahwa proses wahyu secara turun langsung (tanzil) orisinalitasnya diragukan karena transfer muatannya bisa berkurang sampai 30% (!). “Kata kunci yang mereka pakai adalah kutipan ungkapan seperti ‘… karena keterbatasan bahasa Arab yang dijadikan wadah peran Tuhan yang tidak terbatas itu.’ Mereka mengacaukan pemahaman itu secara teologi dan filsafat; padahal teologi berurusan dengan dogma, sementara filsafat dengan kebebasan berpikir,” paparnya.

Dalam menguraikan definisi-definisi yang terkait dalam tema kuliah ini, Nashruddin juga mengkritisi soal pengertian istilah Nabi dan Rasul yang diajarkan di kebanyakan sekolah dasar dan menengah selama ini. “Nabi itu sesungguhnya bermakna utusan Allah yang menguatkan syari’at sebelumnya, sedangkan Rasul bermakna pembawa syari’at baru. Keduanya wajib menyampaikan syari’at yang diembannya kepada kaumnya. Jadi, tidak benar bila pembeda antara Nabi dan Rasul dititikberatkan pada tidak diwajibkan dan diwajibkannya salah satu dalam menyampaikan wahyu,” tegas pengajar Metodologi Studi Islam yang juga anggota Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini.

Pada sesi tanya jawab, sebanyak delapan peserta memberikan respons dengan mengajukan berbagai pertanyaan maupun meminta pandangan narasumber secara pribadi terhadap isyu terkait. Harasta, salah satu peserta yang tengah menyelesaikan tugas akhir di fakultasnya, berkomentar, “Penjelasan Ustadz Nashruddin memberi pencerahan tentang perbedaan pengertian agama samawi di kalangan para ahli.”

 

(Mutia K. Widjaja)