Puluhan Mahasiswa se-Bandung Raya Sesaki Pembukaan SPI

Kamis, 10 Desember 2015, pertemuan perdana Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Moh. Natsir Bandung dibuka secara resmi. Pembukaan diadakan di ruang aula besar Pusat Dakwah Indonesia (Pusdai), Bandung, Jalan Diponegoro No.63. Kegiatan yang disponsori oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) ini dimulai pada pukul 18.30 oleh Ketua Baznas Jabar, Arif Ramdani. Dalam kesempatan ini, Arif menyampaikan bahwa ia sangat mengapresiasi kegiatan SPI. Secara tidak langsung keberadaan SPI dan semacamnya telah membantu Baznas dalam menyosialisasikan nilai-nilai Islam pada masyarakat luas. Arif juga menghimbau pada seluruh hadirin untuk memanfaatkan momentum ini sebagai sarana belajar, mengingat Jawa Barat memiliki potensi pemuda yang luar biasa.

SPI Moh. Natsir Bandung ini merupakan angkatan kedua, setelah sebelumnya pernah digelar pada bulan Maret 2015. Selain di Bandung, SPI juga telah digelar di Jakarta yang sudah mencapai tiga angkatan. Selain Arif Ramdani, Akmal Sjafril, penggagas SPI, juga berkesempatan memberikan sambutannya. Akmal menyampaikan bahwa SPI Bandung ini diberi nama Mohammad Natsir sebagai apresiasi terhadap pahlawan yang harum namanya di tanah parahiyangan tersebut.

Peneliti INSISTS ini mengaku cukup senang melihat antusiasme para pemuda terhadap kegiatan ini dan mengaku perlu secara teliti menyeleksi calon peserta. “Saya memilih peserta yang memang potensial, yang sekiranya punya peran dan pengaruh pada organisasi dan lingkungannya. Sedangkan yang bukan aktivis, tidak jadi prioritas,” ungkapnya.

Dalam sambutannya, Akmal menyampaikan alasan mengapa SPI ini perlu diselenggarakan. Kegiatan SPI berawal dari ide beberapa pemuda yang resah terhadap menjamurnya isme-isme yang memojokkan Islam tanpa berlandaskan pengetahuan yang benar. “Musuh-musuh Islam semakin gencar bicara sana-sini, menulis ini dan itu, berdebat soal ini dan itu. Tapi ke mana kita? Banyak di antara kita yang tidak punya keberanian untuk menyanggahnya dan menunjukan yang mana yang benar. Oleh karena itu kita perlu belajar. Ya di sini, di SPI!”

Oleh karena itu Akmal menghimbau kepada seluruh peserta untuk memaksimalkan kesempatan yang ada, kemudian sama-sama memantaskan diri untuk bisa menjadi pemuda pembela Islam yang cendekia.

Tak kurang dari lima puluhan peserta hadir memenuhi ruangan. Peserta yang kebanyakan mahasiswa ini datang dari berbagai universitas seperti ITB, Unpad, Unisba, Telkom, Ma’had Imarot, dan juga beberapa di antaranya yang sudah bekerja. Pada dasarnya, harapan para peserta tak jauh berbeda, yaitu ingin

memiliki pengetahuan yang mumpuni untuk bisa membentengi diri dari serangan pemikiran-pemikiran Islam yang keliru dan semakin menjamur.

“Harapan saya mengikuti kegiatan ini sebenenrya banyak. Intinya, saya ingin mampu membentengi diri dari pemikiran-pemikiran Islam yang keliru,” ucap Mutia, salah seorang peserta non-mahasiswa. Hal senada juga dituturkan oleh seorang mahasiswi Unpad, Galuh, “Saya ingin membentengi diri saya dan orang-orang terdekat saya dari perang pemikiran.”

Rizki Mulia