The Golden Age Of Islam

Pertemuan kuliah COSIL pada Sabtu (7/11) bertempat di kampus Universitas Islam Al-Azhar yang diselenggarakan atas kerjasama dari Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Fatahillah dan YISC Al-Azhar merupakan pertemuan materi terakhir untuk para pesertanya. Setelah melalui proses pembelajaran selama lima kali tatap muka akhirnya para peserta tiba di penghujung perkuliahan.

Perkuliahan terakhir diisi dengan dua materi yang merupakan kesimpulan dari materi-materi yang diberikan di awal pembelajaran. Ustadz Akmal Sjafril mengangkat tema “Manusia dan Kebahagian” pada materi pertama dan “The Golden Age of Islam” pada sesi berikutnya.

“Sengaja di akhir kami sajikan pembahasan yang menarik ini, karena sebenarnya ini merupakan kesimpulan dari perkuliahan kita. Di awal, kita lebih dahulu membahas worldview Islam agar kita paham betul objek kajian kita dan paham betul kemana seharusnya kita bersandar. Kemudian di beberapa materi selanjutnya kita membahas ajaran-ajaran dari luar Islam yang dipaksakan masuk ke dalam sistem ajaran Islam itu sendiri. Hingga sampailah kita pada pembahasan kali ini,” papar Ustadz Akmal di awal penyampaian materi.

Pembahasan yang sangat menarik disampaikan oleh Akmal dengan berhasil membuat para peserta semakin antusias mengikuti jalannya pembelajaran. Ustadz Akmal menjelaskan mengenai kejayaan peradaban Islam yang pernah gemilang tidak hanya di Jazirah Arab, namun meluas jauh hingga ke Asia Tengah dan banyak wilayah lain. “Masa-masa itu bertepatan dengan jaman kegelapan atau The Dark Age yang saat itu melanda Barat,” ungkap Akmal. Akmal kemudian menuturkan banyak sekali kemajuan yang diciptakan oleh para cendekiawan Muslim di segala bidang sehingga membuat para peserta takjub.

Dan semua kejayaan yang pernah dikibarkan oleh bendera Islam selama nyaris satu milenium takkan pernah berada di genggaman umat Muslim jika saat itu mereka tak memegang teguh Al-Qur’an yang mengungkap berbagai pengetahuan dari Al-‘Aliim. “Yang mengokohkan bangunan peradaban Islam adalah ilmu, karena itu umat Muslim takkan bisa maju tanpa ilmu,” ujarnya.

“Pertemuan kali ini mantabbb abis…!!! Kita banyak mendapat ilmu baru, banyak mengenal tokoh-tokoh cendikiawan muslim yang luar biasa yang juga merupakan pembangun peradaban emas saat itu. Kita juga banyak belajar tentang keterbatasan dan kekurangan kita akan semangat belajar dan berkarya, menciptakan dan berkonstribusi, yang cendekiawan Muslim dan para ulama dahulu perjuangkan,” ujar Millatie Mustaqiemah, salah satu peserta dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

“Semoga ilmu yang tercurah tak berhenti mengalir sampai di sini, namun juga dapat bermanfaat untuk menambah khazanah keislaman, terkhusus untuk diri kita masing-masing,” pungkas Ustadz Akmal di akhir pemaparannya.

Penida Nur Apriani