SPI Mengkaji Konsep Manusia dan Kebahagiaan

Sabtu (7/11), Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Fatahillah, Jakarta, yang bekerja sama dengan Youth Islamic Study Club (YISC) Al Azhar, menggelar kelas perkuliahan untuk yang terakhir kalinya di periode ini, setelah memulainya dari bulan Agustus. Pada materi terakhir ini Akmal Sjafril, M.Pd.I. menyajikan materi “Manusia dan Kebahagiaan” pada sesi pertama. Hujan deras yang mengguyur Jakarta tidak mengurangi jumlah dan antusiasme peserta.

Materi “Manusia dan Kebahagiaan” dianggap penting karena keterkaitannya dengan pemahaman yang akan digunakan untuk mewujudkan kembali kebangkitan umat Islam dalam tataran individu.

“Seorang Muslim harus mengetahui hakikat kemanusiaanya. Apakah manusia hidup di dunia ini untuk menjadi maju dan canggih dengan teknologinya saja? Ataukah untuk sukses secara materi kemudian bersenang-senang dengannya? Ataukah untuk menjadi kuat dengan persenjataan dan kekuatan sehingga bisa berkuasa diatas golongan manusia lainnya?” ucap Ustadz Akmal di awal materi.

Beliau juga mengatakan kesadaran akan hakikat kemanusiaan selamanya tiada akan terlepas dari fakta bahwa seluruh umat manusia di muka bumi ini akan berakhir masanya.

“Seorang manusia muslim harus mempunyai hati sesensitif fluida, sebagaimana air udara yang mudah bergetar hanya karena hembusan angin atau sentuhan lembut. Begitu pulalah hati seorang Muslim yang mampu berfiikir dengan ‘aqlnya ketika menjalani rutinitas keseharian yang tidak membuat bersikap seolah segalanya itu ‘taken for granted’. Ia harus mampu mengambil setiap pelajaran dari apa yang ia lihat dan jalani. Kebahagiaan hakiki akan bermula dari berfikirnya dia tentang keagungan semesta, hingga bertemunya pikiran dengan Sang Pencipta,” pungkasnya.

Saihul Basyir