Cerita di Balik Lawatan Presiden Jokowi ke USA

Kita sudah bantu mengingatkan, Presiden Obama saja sampai dua kali menunda kunjungannya ke Indonesia oleh sebab isu dalam negeri yang penting.

Pertama, karena jadwal kunjungan tersebut bersilangan dengan jadwal pembahasan RUU Kesehatan di parlemen. Sebuah RUU yang akan menjadi payung hukum dan anggaran bagi perwujudan janji Obama semasa kampanye. Obama sebagai Presiden tidak perlu hadir di ruang legislasi, tetapi ia merasa perlu untuk tetap berada di dalam negaranya, berjaga-jaga mana kala pembahasan itu buntu. Ia akan melobi langsung siapa pun anggota parlemen yang menolak usulan RUU itu. Ini, kalau di Indonesia, rasa-rasanya mirip dengan janji Kartu Indonesia Sehat, yang sudah setahun tak jelas perwujudannya.

Kali kedua, Obama pun harus menunda niatnya ke Indonesia. Ia menelepon langsung Presiden SBY: ada bencana minyak tumpah di Teluk Mexico. Ia meminta maaf karena harus membatalkan kedatangannya, lagi. Obama merasa ia perlu tetap berada di negaranya, walau pun penumpah minyak di perairan selatan pesisir Amerika itu adalah perusahaan minyak kelas kakap yang telah memiliki prosedur ketat penanganan bencana, British Petroleum. Obama tahu, ketidakhadirannya di dalam negeri dalam situasi bencana besar seperti itu adalah pengabaian tugas sebagai Presiden. Kalau di Indonesia, ini rasa-rasanya mirip dengan bencana asap, yang menurut pakar emisi karbon yang dihasilkan darinya sudah setara dengan emisi karbon penggunaan bahan bakar fosil dalam setahun di negara industri maju Jepang.

Saya heran. Dengan sekian banyak orang di sekitar Jokowi yang paham benar dengan tata krama masyarakat Amerika, mengapa tidak ada yang bisa mengingatkan sang presiden (huruf kecil) akan “resiko” sosial yang bakal diterimanya apabila melanjutkan niatnya mengunjungi Amerika, dalam kondisi negaranya sedang mengalami bencana asap?

Singkat cerita, berangkatlah Jokowi disertai ibu negara dan beberapa Menteri. Kalau saja ia membatalkan kunjungan itu, ia akan terhindar dari situasi yang rada-rada memalukan bangsa di sana. Situasi apa? Terlepas dari apa yang saya paparkan di atas, presiden kita mengalami hal-hal yang menurut saya, ya, rada-rada memalukan.

Pertama. Kedatangan presiden di Lanud Andrews, pangkalan yang menjadi semacam titik masuk para tamu negara AS apabila berkunjung ke Washington, terjadi tanpa sambutan kemiliteran yang layak.

Berbeda jika dibandingkan kedatangan tamu sekelas kepala negara lainnya, katakanlah kedatangan Presiden Filipina Benigno Aquino, Jr, pada tahun 2012 lalu. Kedatangannya bersambut lengkap dengan pagar betis militer, hal mana tak tampak terjadi pada kedatangan presiden Jokowi.

Mengapa hal ini adalah “sesuatu”? Nah, harap diketahui, Amerika adalah negara “dignity”. Negara yang menempatkan harga diri sebagai sesuatu yang “sesuatu”. Untuk men-harga-i diri seseorang, Amerika paling jago bermain peran. Amerika akan sangat atraktif kala menunjukkan bagaimana mereka menyematkan “harga” yang “tinggi” atas diri tamunya. Dalam hal sebalik, mereka tidak sungkan juga menunjukkan seorang tamu tidak begitu di” hargai”. Namun, Amerika tetap saja menerapkan batas-batas “politeness” (kesopanan) saat menunjukkan itu. Tamu tetap disambut, disalami, tetapi segala pernak-pernik pendukung kemegahan dikeluarkan dari daftar “dekorasi”.

Kedua, saya sendiri sebagai anak bangsa mau tidak mau harus bersedih, kala membaca berita presiden saya masuk ke Gedung Putih hanya disambut seorang Kepala Protokol, untuk kemudian mengisi buku tamu. Seperti datang menghadiri acara resepsi pengantin, kalau di tanah air. Tanpa didampingi Ibu negara pula. Padahal, Ibu negara ada dalam rombongan presiden ke Amerika.

Amat kontras dengan penyambutan terhadap Presiden Tiongkok Xi Jinping selang sebulan sebelumnya. Presiden Xi disambut dengan gelar pasukan dan upacara militer kehormatan di halaman selatan Gedung Putih. Fasade Gedung Putih yang akrab dalam penggambaran film-film Hollywood pun tampak sepenuhnya.

Bahkan, Obama dan Ibu Negara Michele diskenariokan keluar dari dalam Gedung Putih, menunggu sejenak, sebelum kemudian Limousin yang membawa Presiden Xi datang. Saya pertegas: Presiden Amerika Serikat MENUNGGU. Adegan ini dibuat menjadi sangat terhormat lagi dengan iringan korps musik Angkatan Laut, matra yang secara tradisi militer Amerika adalah matra perang tertinggi negara adidaya itu. Ada pun puncak kehormatannya, lagu kebangsaan Tiongkok dialunkan dalam upacara, di depan, mendahului lagu kebangsaan tuan rumah. Meriam salvo pun terdengar di latar belakang musik. Sungguh, suatu penghormatan tinggi pada tamu negara. Agar saya tidak dicap ngarang, kisah ini dapat dilihat langsung di youtube, masukkan keywords: Obama welcomes Xi Jinping at the White House.

Saya membayangkan, kedatangan Jokowi tak beda sama sekali dengan kedatangan para turis, yang memang boleh menyambangi Gedung Putih pada jam kerja, ditemani petugas pariwisata. Ia harus menunggu beberapa saat sebelum diperkenankan masuk menemui Presiden Obama di ruang oval, kamar kerja Presiden Amerika Serikat. Kesannya, Obama sedang asyik bekerja, kemudian harus melayani sedikit “gangguan” kecil karena ada tamu datang.

Substansi kunjungan Jokowi juga sedikit aneh. Selain bertemu Presiden Amerika, presiden kita ini dijadwalkan juga bertemu dengan para petinggi perusahaan-perusahan teknologi informasi Amerika.

Ternyata, hal-hal yang masuk dalam agenda pertemuan banyak yang njomplang secara protokoler. Agenda tersebut, ambil contoh pertemuan dengan petinggi Microsoft, semestinya cukup ditangani pejabat level Dirjen. Sebagai penghormatan, kita bisa mengutus level Menteri-lah.

Saya tidak habis pikir, bagaimana pemahaman protokoler orang-orang istana, yang menyusun agenda pertemuan presiden untuk membicarakan semacam pemasaran produk Microsoft. Paling bikin saya merem, ada agenda membahas tawaran tambahan bantuan sebesar 1 juta dollar dari Microsoft, jumlah yang, kalau dibandingkan dengan biaya perjalanan rombongan Jokowi ke sana, mungkin terhitung tidak lebih besar.

Oh ya, selain itu, presiden kita mendapat jamuan makan siang bukan di Gedung Putih. Dalam jadwal, ia hanya makan siang di gedung kantor Sekretaris Negara (Secretary of State), yang dalam diplomasi internasional dikenal sebagai Kementerian Luar Negeri Amerika. Seorang presiden negara berdaulat bukannya mendapat jamuan setara dari tuan rumah Presiden, tetapi digeser ke level yang lebih rendah, ke level Menteri.

Yang lebih aneh lagi, jadwal pertemuan dengan petinggi Freeport yang dibungkus dalam acara sarapan bersama, berada lebih awal dari pertemuan dengan Presiden AS. Saya membayangkan, dalam pertemuan tertutup dengan Obama, Jokowi justru mendapat “evaluasi” dari mitra sewajarnya itu, yang membuat ia malah tidak sejajar dengan si Mitra. Mengapa komposisi jadwal seperti ini lolos dari pertimbangan orang protokol istana?

Belakangan, terbetik kabar Jokowi mempercepat kepulangannya ke tanah air. Pertemuan dengan para petinggi perusahaan IT di pantai barat ia batalkan, ia wakilkan ke para Menterinya. Cocok-lah. Tapi, bukan karena ketidaksejajaran protokoler tindakan itu ia lakukan. Melainkan, alasan bahwa ia sekarang peduli pada bencana asap. Ujug-ujug, Jokowi langsung mengatur rutenya mendarat di daerah bencana. Tidak mampir ke Ibukota terlebih dahulu untuk menerima laporan penyelenggaraan negara dari Wapres atau siapapun acting Presiden RI selama ia berada di luar yurisdiksi pemerintahan RI . Itu pun, masih belum ia putuskan, mendarat di Kalimantan, atau Sumatera. Mungkin, tim pencitraan sedang menimbang-nimbang lokasi mana yang paling besar efek pencitraannya untuk didatangi. Dengan prasyarat, daerah mana yang paling mungkin diguyur hujan segera.

Eh, maaf, saya terpaksa menyeret kata “pencitraan” ke sini. Sebab, kalau Jokowi memang hatinya ada di bencana asap, ia semestinya menunda kunjungannya ke AS. Dan, gemuruh di medsos terjadi. Tiba-tiba banyak akun meminta Jokowi pulang… kesan yang ingin dibangun, Jokowi pulang karena mendengar suara rakyatnya. Padahal, gemuruh besar pagi ini justru lebih banyak muncul setelah tersiar kabar di media, Jokowi menelepon Menteri Luhut, menanyakan kondisi penanganan bencana asap. Lucunya lagi, Jokowi melapor pada Menterinya itu bahwa ia akan pulang lebih awal. Jokowi yang melapor. Saya bingung, yang mana sebenarnya yang presiden.

Saya membayangkan, saat bertemu Obama, agenda awal yang garis besarnya mendiskusikan peran Indonesia dalam percaturan global, tiba-tiba bergeser ke soal asap. Mungkin, Obama berkata “You should go home, ASAP”. Karena Obama pernah bermukim di Indonesia, ia dengan lafal Bahasa Indonesia lancar menyebut “ASAP” yang merupakan kependekan “As Soon As Possible” itu dengan kata “asap” . Bukan dengan medok bule “ei-sap”. Makanya, Jokowi langsung ngerti. Dan akhirnya, agenda besar membahas peran Indonesia dalam percaturan global itu pun mentah di tengah jalan.

Ketika mengantar anak ke sekolah pagi tadi, saya mendengar Radio Voice of America edisi Bahasa Indonesia di jalan, kunjungan presiden RI ke sana tidak mendapat tempat sebagai berita utama. Editor siaran mungkin bingung, apa hal baru yang bisa diberitakan dari kunjungan itu.

Saya pun tersenyum, kecut, saat penitikberatan laporan adalah: Pembahasan Kemitraan Komprehensif (comprehensive partnership) Amerika-Indonesia. Suatu topik yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2010 lalu, di era SBY, yang sekarang telah memasuki tahun kelimanya, dan sepertinya menjadi topik “pelampung”, agar kunjungan yang sia-sia ini punya sesuatu makna.

Canny Watae, jurnalis GM Fajar TV Makassar