Leopard, GIDI dan Antitesa Teori Terorisme

Leopard Wisnu Kumala membuat gaduh. Aksi pengeboman pria berusia 29 tahun di Mal Alam Sutera, Tangerang, Kamis kemarin tak cuma menenggelamkan unjuk rasa mahasiswa yang menuntut Presiden Jokowi turun. Lebih dari itu, Leo, nama panggilanya, kian menguatkan antitesa teori terorisme.

Galibnya setiap aksi bombing, publik selalu dipaksa menelan teori bahwa pelakunya adalah muslim, berjenggot, berjidat hitam hingga bercelana ngatung. Tapi kali ini, Leo tidak memiliki semua itu. Ia dari etnis Tionghoa dan beragama Katolik.Saat ditangkap, Leo memakai kaos berkerah dengan celana yang tak mengatung dan mukanya bersih dari jenggot. Wajah Leo tentu saja lebih mirip Ahok daripada Imam Samudera karena dari etnis yang sama.

Leo adalah sebuah kisah yang kian menguatkan antitesa teori terorisme. Sejak tahun 2001, usai World Trade Center runtuh, Barat dengan AS sebagai komandannya terus mengopinikan bahwa teroris itu identik dengan Islam. Meski berbusa-busa mulut Presiden Obama dan pejabat AS lainnya membantah mengaitkan Islam dengan teroris, namun kebijakan mereka mengkonfirmasi teori dimaksud.

Kini, teori tersebut perlahan tapi pasti semakin usang. Berbagai aksi pengeboman dan kekerasan justru dilakukan oleh non muslim. Kita ingat dengan Anders Breivik, pria Norwegia yang menembakkan senjatanya di Pulau Utoya pada Juli 2011 hingga menewaskan puluhan orang yang sedang asyik berjemur. Lalu ada Dylan Storm Roof yang pada Juni 2015 mengguncang dunia karena menembakkan peluru secara membabi buta ke Gereja Emanuel AME di Charleston, South Carolina, AS. Sembilan orang tewas dalam peristiwa yang disebut sebagai serangan terburuk di tempat ibadah AS selama kurun waktu 24 tahun.

Kemudian ada aksi jamaah GIDI pada Idul Adha kemarin. Mereka membakar masjid dan melarang umat Islam merayakan Idul Adha di Tolikara, Papua. Dan di saat kasus GIDI tak jelas penyelesaiannya, muncul Leo. Alih-alih shopping dan cuci mata di Mal Alam Sutera, ia justru melakukan pengeboman. Dan menurut pengakuannya, sudah empat kali aksi tersebut ia coba lakukan.

Breivik, Dylan, jamaah GIDI dan Leo bukan muslim. Kelakuan mereka sudah selayaknya membuat publik sadar bahwa teori terorisme adalah Islam sudah tak lagi relevan karena telah lahir sebuah antitesanya. Dan ke depan, saya teramat yakin, akan terus bermunculan aksi kekerasan disertai pengeboman oleh non muslim. Landasannya sederhana: tersebab Allah sebaik-baik pembuat makar.

Erwyn Kurniawan
@Erwyn2002