Bahaya Pluralisme Agama

Sekolah Pemikiran Islam (SPI) yang bekerja sama dengan Youth Islamic Club (YISC) Al-Azhar kembali mengadakan “Class for Study Islam and Liberalism”. Sabtu, 24 Oktober 2015, kuliah kelima digelar di Basement Universitas Al-Azhar Indonesia Ruang 030, Jl. Sisingamaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kuliah ini dimulai pukul 13.00 – 17.30 WIB dengan materi pertama tentang “Kesetaraan Gender & Feminisme” dan materi sesi kedua tentang “Pluralisme Agama” yang keduanya disampaikan oleh Akmal Sjafril, founder #IndonesiaTanpaJIL (ITJ).

Dalam pembahasan sesi kedua, Akmal menjelaskan bahwa pluralisme hingga saat ini belum mempunyai definisi yang jelas dari tokoh-tokoh pengusungnya. Beberapa tokoh pluralis mencoba mendefinisikan pluralisme itu sendiri, namun definisi masing-masing tokoh tidak jelas dan sangat membingungkan. Nurcholish Madjid, misalnya, mendefinisikan pluralisme sebagai pertemuan yang sejati dari keserberagaman dalam ikatan-ikatan kesopanan. Maksud dari pertemuan sejati yang sopan tidak dijelaskan secara gamblang, sehingga membuat pengikut pluralisme sendiri bingung.

Tokoh Syi’ah, Jalaluddin Rakhmat, mengatakan bahwa, banyak orang menyangka pluralisme itu punya definisi macam-macam, padahal sebenarnya tidak. “Sayangnya, Jalaluddin Rakhmat juga tidak mendefinisikan pluralisme secara jelas dan tegas,” ungkap Akmal.

Lebih lanjut, pengarang buku Islam Liberal 101 ini juga mengatakan bahwa MUI telah mengeluarkan definisi dan fatwa bahwa pluralisme itu haram untuk diikuti. “Pluralisme merupakan suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh karena itu setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Karena itulah umat Islam haram mengikuti paham Pluralisme, Sekularisme & Liberalisme Agama, sesuai Fatwa MUI No 7/2005,” ujar Akmal.

Akmal juga menegaskan bahwa pluralisme mempunyai efek yang sangat besar, yaitu timbulnya sekularisme dan keraguan dalam beragama sehingga berujung pada ateisme.

Rizki Dwi Siswanto