Menyikapi Kesetaraan Gender dan Feminisme

Program Class of Study Islam and Liberalism (COSIL), yang merupakan buah kerja sama YISC Al-Azhar dan Sekolah Pemikiran Islam (SPI), telah memasuki materi kesembilan, yaitu “Kesetaraan Gender dan Feminisme”. Materi kali ini disampaikan oleh Ustadz Akmal Sjafril pada Sabtu, 24 Oktober 2015, dari pukul 13.00 sampai 15.30. Materi ini dianggap penting untuk disampaikan karena masih banyak umat Islam yang tidak tahu bagaimana sejarah dari kesetaraan gender dan feminsme atau bahkan salah menempatkan istilah gender itu sendiri.

“Saya pernah diundang acara seminar dengan tema ‘Kesetaraan Gender dalam Islam’. Saya bilang, tema ini salah, karena dalam Islam tidak ada istilah gender,” ungkap Ustadz Akmal saat memulai presentasinya.

Yudi, seorang peserta dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyebut bahwa materi ini sangat penting sekali. “Selain untuk menambah wawasan, juga untuk mengetahui modus operandi yang sering digunakan bagi para kaum feminis,” ungkapnya.

Banyak sekali Muslimah yang tercebur dalam paham feminisme. Mereka di-brainwash dengan paham ini, tergiur dan pada akhirnya mendukung aksi-aksi yang berhubungan dengan feminisme dan kesetaraan gender. Oleh karena itu, aktivis dakah harus bisa menyikapi akan paham yang satu ini.

“Pertama, kita harus memperdalam ilmu baik agama maupun umum. Kedua, kita harus tahu betul pemikiran mereka, lalu kalau bisa kita diskusi bersama mereka untuk meluruskan pemikirannya,” jawab Yudi saat ditanya sikap yang harus dilakukan oleh seorang Muslim mengenai paham feminisme ini.

Mengenai pembicaranya, mahasiswa semester 3 ini mengatakan bahwa ia sangat puas dengan penyampaian yang disampaikan oleh Ustadz Akmal Sjafril. “Seperti biasa, sangat menarik! Walaupun gaya bahasanya santai, tapi to the point dan berbobot!”

Millatie Mustaqiemah