Rini dan Paradoks Nawa Cita Jokowi

Presiden Jokowi berulang kali mengatakan bahwa dirinya dan para menteri merupakan pengemban amanah rakyat Indonesia. Oleh karena itu tujuan mereka dalam menjalani Pemerintahan adalah sepenuhnya untuk berbakti dan menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat serta nusa dan bangsa Indonesia. Semua tujuan dan target ini harus dapat terwujud secepat mungkin dengan bantuan koridor yang dikenal dengan nama Nawa Cita.

Nah repotnya, salah satu pembantu utama sekelas menteri yang paling memiliki kekuasaan dalam kabinet saat ini bertingkah laku dan mengambil tindakan yang merupakan kebalikan dari nilai-nilai Nawa Cita itu sendiri. Jika kita lakukan checklist prinsip Nawa Cita yang di usung oleh pasangan Jokowi – JK dalam upaya kembali mengangkat harkat, martabat dan kesejahteraan rakyat dengan tingkah laku yang dipertontonkan oleh Menteri BUMN Rini Soemarmo, maka hampir semua nilai di dalam Nawa Cita di tabrak oleh lulusan Amerika Serikat ini.

Poin 2 dalam Nawa Cita yang berisi pembangunan tata kelola pemerintahan yang bersih dan efektif sudah di langgar oleh Rini dengan tindakan serakahnya dalam menerima uang negara yang bukan menjadi haknya melalui Direktur Utama Pelindo II yaitu RJ Lino untuk keperluan perlengkapan kantor kementerian sebesar 200 juta rupiah. Memang jumlah ini tidak sebesar dengan harta negara yang di rampok oleh pejabat lain yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam bui, tetapi tindakan ini telah menodai cita – cita mulia para pejabat yang berkuasa saat ini dan masih memiliki hati nurani yang baik.

Poin 4, 6 dan 7 pada Nawa Cita yang berbunyi penolakan negara lemah, peningkatan produktivitas Rakyat, serta mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor – sektor strategis ekonomi domestik sekaligus di langgar oleh Rini dalam tindakan gadai Bank sekelas Mandiri, BNI dan BRI kepada Cina dalam agendanya yang ingin mewujudkan kereta api cepat Bandung – Jakarta dengan nilai proyek sebesar 5 Milyar USD yang dapat berpotensi dengan terjadinya swap saham BUMN ini jika di masa depan value hutang yang di terima membengkak akibat tidak bersahabatnya nilai mata uang kita terhadap USD.

Terlalu banyak blunder yang di lakukan Rini, baik yang berdampak saat ini atau juga akan memberikan dampak kehancuran bagi Negara di masa depan. Mungkin tidak lama lagi usia jabatan Rini, mengingat concern Jokowi terhadap Nawa Cita dan target – target yang ingin di wujudkannya.

Roni, Cimanggis