Jelang Tahun Baru Islam, Forum Alumni SPI Gelar Workshop Kepenulisan

Lembaran kertas yang dibagikan panitia segera terisi dengan coretan para peserta. Bukan sekadar coretan, karena lembaran itu berisi cetusan-cetusan ide untuk digarap dan ditindaklanjuti menjadi tulisan. Demikian sekilas suasana di tengah-tengah workshop kepenulisan yang diselenggarakan oleh Forum Alumni Sekolah Pemikiran Islam (SPI) pada Ahad (11/10/2015) kemarin.

“Kita tidak bisa menulis sesuatu yang tidak pernah menjadi bahan pemikiran kita. Kita menulis karena kita peduli,” tandas pemateri yang dikenal dengan berbagai buku-buku pemikiran Islamnya. Pemateri tersebut tak lain ialah Akmal Sjafril, peneliti di Institute of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS). Bertempat di Aula INSISTS, workshop berlangsung dari pagi hingga sore hari.

Setelah mendapatkan bahasan perihal “Bahasa dan Manusia“, para peserta diajak untuk menggali ide kreatif secara kreatif, sebelum kemudian mencoba sendiri penulisan kreatif.

“Kita akan belajar menyampaikan tentang diri kita,” ujar Akmal mengawali sesi di mana para peserta diminta menyampaikan hal-hal yang menarik dari nama masing-masing. Susul-menyusul para alumni Sekolah Pemikiran Islam itu pun mengutarakan kisahnya, sehingga harus dibatasi.

“Dari nama saja, kita sudah bisa membuat suatu cerita,” kata Ketua Divisi Litbang #IndonesiaTanpaJIL (ITJ) itu. “Apa saja bisa diceritakan. Jadi sebenarnya kita tidak kehabisan ide, tapi mungkin cuma kehabisan keberanian,” ujar Akmal yang dalam kurun 5 tahun dapat menulis lebih dari 500 entri di blognya dahulu.

Ia juga memperingatkan, bahwa bahaya yang mengancam pertama kali dalam menulis adalah perasaan takut.  “Takut di-judge, takut dihakimi, takut dinilai tidak menarik. Padahal di luar juga tidak banyak yang bisa menulis dengan benar-benar baik. Orang yang bermulut tajam juga sebenarnya tidak banyak,” papar Akmal dengan nada memberi optimisme.

“Kreatif itu sendiri faktor nomor satunya adalah berani, kalau perlu nekad,” lanjutnya lagi,

Pada sesi penulisan kreatif, Akmal memandu langsung peserta untuk menyebut dan menelaah kondisi dan isu kekinian yang dianggap menarik perhatian. Beragam topik mulai dari lingkup lokal, kawasan, hingga global pun mengemuka. Termasuk pula beragam tema mulai dari bidang ideologi, hankam, pendidikan, politik, ekonomi, hingga sosial budaya. Isu-isu itupun dipertajam lagi dengan berbagai kemungkinan sudut pandangnya.

“Kita tidak bisa memaksa membuat orang lain menganggap penting suatu isu, kalau kita sendiri tidak peduli kepada isu tersebut,” kembali Akmal mengingatkan peserta.

“Merasa berdosalah kalau kita mengetahui sesuatu, tapi hanya kita simpan, tidak kita sampaikan,” lanjutnya.

Peserta kemudian diberi kesempatan untuk menuliskan opininya secara utuh. Panitia kembali membagikan lembaran kertas yang baru. Lembaran yang juga segera terisi kembali. Sebagian peserta malah mengaku belum sempat selesai, karena tanpa terasa waktu sudah membatasi.

 

Zaki Fathurohman