Inilah Kisah Derita Balita Korban Asap

Balita korban asap di Riau

Kabut asap akibat pembakaran hutan diwilayah sumatra dan kalimantan membuat penduduk dikedua tempat tersebut menderita.

Yang teramat rentan mengalami gangguan bahkan sampai kematian adalah para balita. Masing masing orang tua mereka berusaha menjaga balita dari serangan asap yang menyebabkan ISPA (Inspeksi Saluran Pernapasan Akut).

Berikut ini kisah berbagai penderitaan dan cara mereka untuk menjaga anak anaknya.

Sebagian warga di Pekanbaru, Riau, berusaha mati-matian mencegah paparan langsung asap, yang merembes masuk ke dalam rumah sejak beberapa pekan belakangan. Ini dilakukan lantaran warga tak bisa mengungsi karena harus bekerja, namun tak ingin mati perlahan akibat terserang penyakit oleh asap.

Agar keluarganya selamat dari penyakit yang ditimbulkan oleh asap, sebagian warga yang tak sempat mengungsi akhirnya memutar otak agar orang-orang yang disayangi bisa berumur panjang, khususnya Balita. “Sudah 1 bulan ini seluruh ventilasi kamar di sekat suami dengan plastik biar asap tak masuk,” kata ibu rumah tangga bernama Ira Puspita (27).

Tak hanya itu, agar kamar yang tertutup ini punya oksigen yang cukup dan sehat, Ira tak lupa menaruh rendaman jeruk, minyak kayu putih dan air mendidih di dalam kamar. “Saya tanya sama kawan-kawan, katanya didihkan air bersama jeruk nipis, minyak kayu putih. Selain itu AC juga dinyalakan,” kisahnya

Menurut Ira, rendaman jeruk nipis ini beraroma segar. Selain itu kata kawan-kawannya, efek rendaman jeruk nipis bisa mengikat molekul buruk asap di dalam ruangan, sehingga oksigen di kamar bisa bagus. “Kata kawan-kawan saya begitu, kalau prakteknya lumayan seh, saya sudah coba dan udara kamar segar,” urainya lagi.

 
Kisah Memilukan, Balita Berusia 10 Bulan di Pekanbaru Ini Menderita Radang Paru-paru Akibat Asap

Bencana asap yang terjadi di Provinsi Riau tiada henti membawa kesengsaraan. Setelah sebelumnya balita bernama Gibran dirawat akibat terkena radang paru-paru, kini bertambah satu balita lagi yang turut jadi korban keganasan jerebu, dia adalah Silvia Natalia Boru Manalu, yang masih berusia 10 bulan.

Anak bungsu dari pasangan Manalu dan Boru Juntak ini lemas tak berdaya disalahsatu kamar Rumah Sakit Santa Maria Pekanbaru, dengan kondisi infus di tangan, serta selang oksigen dan selang uap di hidungnya. Kedua orangtua mereka cuma bisa pasrah sambil menatap dalam-dalam penderitaan sang anak, yang terlihat terengah-engah akibat kesulitan bernafas.

“Sudah demam sejak Jumat malam kemarin, saat itu kami bawa dia ke klinik dekat rumah dan dikasih obat. Cuma demam naik turun dan batuknya tak hilang juga. Pas dibawa sekali lagi ke sana, mereka menyarankan agar anak kami dibawa ke RS karena sudah bahaya, begitu katanya,” sebut sang ibu, Boru Juntak di rumah sakit, Selasa (6/10/2015) malam.

Khawatir terjadi apa-apa dengan anak bungsunya, pasangan yang tinggal di Pasir Putih inipun akhirnya membawa Silvia ke Santa Maria, Selasa pukul 11.00 WIB, siang. Setelah di cek medis, Silvia pun dinyatakan mengalami radang paru-paru. “Kata dokter tadi radang paru-paru, ya terpaksalah mau tak mau kan harus dirawat. Itu bapaknya sedang minta izin tak bisa masuk kerja besok,” sesalnya.

Tak hanya dibebani oleh kondisi kesehatan anak kesayangannya, pasangan ini juga dihadapkan dengan biaya rumah sakit yang sudah barang tentu merogoh saku, mengingat sang suami sehari-hari cuma pekerja di bengkel, dan Boru Juntak hanya sebagai ibu rumah tangga. “Yang penting anak kami sehat dulu. Nanti soal biaya kemanapun kami cari, pinjam sana-sini masih bisa,” pilunya.

Dengan tatapan nanar, Boru Juntak terus mengusap wajah anak kesayangannya yang tak berdaya ini. Iapun tak letih memangku Silvia berjam-jam lamanya. Sedangkan suaminya Manalu, disibukkan dengan urusan rumah sakit, serta memastikan keadaan dua anak mereka yang ada di rumah. “Suami saya pulang dulu ngecek anak di rumah, yang besar kelas 2 SD, dan yang tengah umur 4,5 tahun,” ujar Boru Juntak.

 

Selain Silvia, 3 Balita Sekamar Lainnya juga Alami Nasib Serupa Akibat Asap

Sementara itu penghuni lain yang satu kamar dengan Silvia. Kebetulan ruang inap tempat dia dirawat berkapasitas empat pasien balita. Yang menyayat hati, ternyata keempat-empat pasien ini merupakan korban asap Riau. Salahseorang diantaranya bernama M Fadh Faisal yang masih berumur 15 bulan.

“Kata dokter anak saya mengalami infeksi saluran pernafasan. Ini sudah masuk beberapa hari sejak Fais dirawat. Sudah agak lumayan, tapi tiap hari harus terus di uap biar pernafasannya lega. Kemarin pas awal-awal itu susah dia bernafas, nggak tega melihatnya,” ujar Ibunda dari Fadh Faisal menjelaskan kondisi anak laki-lakinya.

Ibu dari Fais berencana akan meminta bantuan ke Dinas Kesehatan, dengan harapan bisa meringankan biaya pengobatan dan perawatan anaknya selama di rumah sakit. “Rencana begitu bang, soalnya kami pakai uang pribadi bukan asuransi, mudah-mudahan ada keringanan, kalau tidak ya bagaimana, berarti yang dibilang pemerintah selama ini cuma bohong-bohongan,” katanya.

Sejumlah perawat tampak sekali-kali datang guna memastikan keadaan semua pasien balita ini. Sesuai jadwal, mereka secara bergantian diberi uap, yang istilahnya disebut para orangtua disana dengan sebutan ‘tabung astronot’. “Iya soalnya kalau sudah dihidupkan, keluar asap dari samping kiri dan kanan kayak astronot,” canda salahseorang orangtua di ruangan itu.

holil

sumber : Goriau,com