Bolehkah Ghibah terhadap Orang yang Dapat Membawa Mudharat kepada Umat?

Assalamu’alaykum ustadz,

Saya tahu ghibah ini dilarang dalam islam, bahkan dosanya seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Tetapi, apakah kita tidak boleh membicarakan kesalahan orang seutuhnya, padahal orang ini banyak melakukan hal-hal yang mudhorot buat umat islam, kalau tidak diperingatkan ke kaum muslimin, bisa berbahaya.

Syukron jazakillah.

Ummu Soraya, Bekasi

Jawab:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabatakatuh

Saudari penanya dan para pembaca yang dirahmati Allah !
Sesungguhnya islam adalah agama yang mengajarkan kebaikan. Diantaranya adalah menutupi kesalahan orang lain dan berusaha mengarahkannya agar memperbaiki kesalahannya itu.
Islam memerintahkan kita agar menjauhi perkara ghibah atau mengumbar aib orang lain. Bahkan ia termasuk dosa besar sebagaimana firman Allah swt :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ {الحجرات:12}
Dasar hukum ghibah adalah haram. Hanya saja ada beberapa kondisi dimana ghibah itu diperbolehkan dengan alasan yang dibenarkan islam.
Diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Ketika menjadi saksi di persidangan atau di hadapan penegak hukum.
2. Di hadapan seseorang yang punya kuasa untuk merubah keburukan orang lain. Misal, kita membuka aib si anak di hadapan bapaknya supaya bapaknya bisa menasihati anaknya itu.
3. Disaat meminta fatwa dari seorang mufti
4. Disaat seseorang melakukan keburukan yang sangat berbahaya, sedang ia tidak bisa diperbaiki dengan nasihat ataupun cara lainnya. Maka untuk menyelamatkan jiwa, harta, kehormatan dan agama, kita diperbolehkan membuka keburukan orang tersebut.

Hal-hal di atas juga disebutkan oleh imam Nawawi dalam syarh shahih muslim. Sebagaimana juga diuraikan dalam fatwa islamweb.net.

Wallahu a’lam bish-showab.