Bangga Menjadi Muslim di Ho Chi Minh City

Masjid di Ho Chi Minh City. [backpackology.me]

Haruskah kita menunggu menjadi minoritas. Sudah sejak lama Islam mengajarkan bahwa sesama muslim adalah saudara, sesama muslim layaknya seperti bangunan.

Berkelana seorang diri di Ho Chi Minh City, sebuah kota yang jumlah muslimnya hanya 0.01% saja, membuatku seolah menemukan berlian di tengah padang pasir ketika bertemu muslim lainnya.

Kira-kira satu setengah jam waktu yang kutempuh dari asrama menuju masjid menggunakan bus. Namun, lamanya perjalanan terbayar tuntas ketika bertemu dengan saudara muslim lainnya dari berbagai penjuru dunia. Kebanyakan muslim disini adalah pendatang dari berbagai negara.

Sekali bertemu saja, seolah sudah kenal dengan begitu dekat seolah saudara sendiri, bagaimana tidak, kami merasakan satu persaudaraan yang luar biasa ditengah sulitnya menjadi kaum minoritas, bahkan hanya sekedar untuk mencari makanan halal saja susahnya bukan main.

Aku rasa Indonesia akan menjadi negeri yang sangat membahagiakan jika sebegitu banyaknya muslim di negeri itu saling memahami arti persaudaraan seiman. Tak perlulah kita menunggu minoritas untuk menjadi bersaudara bukan?

Bangga Menjadi Muslim

Kali ini aku akan menceritakan sepenggal kisahku saat bertemu dengan Muslim asal Philipine yang bekerja di perusahaan konveksi pakaian ternama. Sehari-harinya beliau bekerja di New York hanya saja sedang ada tugas di vietnam selama seminggu.

Faisal namanya, seorang pemuda yang bernama asli Renato Hugo ini menjadi muallaf karena banyaknya perjalanan ke berbagai negara untuk urusan pekerjaanya dan bertemu dengan berbagai macam orang yang akhirnya beliau pun tertarik dengan muslim.

Malam itu akupun menginap di kamarnya di Sheraton Hotel Ho Chi Minh City. Setelah beliau selesai meeting dengan koleganya sekitar pukul 9.30 pm, beliau mengajakku untuk mencari minum, di sepanjang jalan begitu banyak orang yang menawari kami ‘pijat plus plus’ dengan menunjukkan katalog berisi wanita-wanita malam.

Ketika aku ditawarkan, maka aku hanya mengatakan tidak dan melambaikan tanganku. Dan saat itu, Faisal dengan bangganya mengangkat tangannya dan mengatakan ‘No, I am Muslim’, seolah beliau ingin mengatakan kepada dunia begitu bangganya menjadi muslim sekaligus mensyiarkan bahwa seorang muslim tak akan melakukan itu.

Ya, kita harus bangga menjadi muslim bukan. Masihkah kita malu ketika memperdengarkan ayat Alquran di tempat umum, sedangkan mereka tak malu memperdengarkan lagu-lagu yang tak jelas. Masihkan kita malu sholat di mana saja, jika tak menemukan tempat sholat. Tempat sholat sangatlah sulit ditemukan di negara-negara non muslim, jadi berbanggalah ketika kita harus sholat di mana saja, toh mereka yang melakukan kemaksiatan tak malu dipertontonkan di khalayak ramai. Kenapa kita harus malu dengan melakukan kebaikan.

Berbanggalah menjadi seorang muslim. (Alfiyan)