Kelas Menengah Indonesia

Semakin sering saja kita menggunakan atau mengunyah istilah Kelas Menengah di Indonesia. Hampir selalu, itu akan merujuk pada mereka dengan jumlah kocek, pengeluaran, gaya hidup mulai fashion sampai kuliner, dan lainnya yang khas. Saya merasa istilah itu semakin merapat pada hidup saya.

Ada beberapa pernyataan penting yang ingin saya katakan di sini sebelum mungkin akan hilang ditelan zaman.

Pertama, saya ingin tetap mengatakan bahwa istilah kelas menengah itu tidak punya ikatan kuat dg keindonesiaan. Indonesia tidak punya tradisi pertarungan kelas.

Kedua, dunia sedang gandrung pada istilah ini. Di Amerika, istilah ini lebih disukai dari pada istilah orang kaya karena istilah ini mengurangi kesan individual dan memberi kesan adanya kelompok dan bagian dari kelompok. Dan -seperti biasa- kita juga ikut-ikutan.

Ketiga, istilah ini sudah ada sejak dahulu. Teks yang pernah saya baca menunjukkan bhw istilah ini sudah ada sejak tahun 1900-an. Sejak berakhirnya Kebijakan Tanam Paksa. Sejak Politik Etis, seiring liberalisasi di Belanda sana. Berevolusi terus sampai menjelang kemerdekaan, era Soeharto, dan sampai sekarang. Era soeharto menghamparkan pandangan baru tentang kelas menengah baru ini. Sejak itu, pegawai negeri, akademisi bahkan militer bisa masuk kategori kelas menengah.

Keempat, gagasannya adalah perubahan-perubahan sosial. Dalam sejarahnya mereka tak pernah besar dan cenderung antagonis pd penguasa. Personifikasinya khas. Minoritas dalam jumlah, tapi penuh gagasan sosial. Seiring evolusi,  keanggotaannya makin banyak dan makin beragam. Tumplek blek dan makin banyak tapi jadi minoritas dalam gagasan.

Kelima, di era ini, Kelas Menengah terkategorikan lebih pada soal tingkat pendapatan, bukan lagi soal gagasan sosial dan jarak yang tercipta antara mereka dengan kelas atas dan kelas bawah. Lebih pada soal pendapatan, konsumsi, dan gaya hidup. Kita akan makin disodori angka-angka yang ‘memaksa’ kita untuk memaksa kita percaya keberadaan mereka. Mereka akan semakin ‘mengancam’.

Keenam, saya ingin mengulang-ulang istilah Syamsuddin Haris ; Kelas Menengah Berwajah Banyak. Memang mereka menang dalam pertarungan Prita vs Omni, misalnya, tapi mereka juga yang memburu konser lady gaga ke Singapura. Memang mereka banyak menyumbang atau sedekah, tapi mereka juga yang mengajari publik soal konsumerisme. Kelas Menengah yang terbentuk ini lebih pada soal konsumsi sambil sesekali mengangkat isu sosial. Mengangkat tema anti korupsi sambil meragukan efektifitas agama.

Saya kira, suatu saat, saya akan menyerah. Tapi sebelum itu terjadi, saya ingin mengatakan hal-hal di atas. Ini soal serius, sebenarnya.

Eko Novianto