Ketika Fitnah Menuai Fitnah

Pembelaan seorang yang baik, tidak serta merta mampu menutupi kesalahan. Setidaknya, begitulah yang kupahami. Meskipun pembelaan itu datang dari keluarga dan kerabat terdekat. Misalnya saja, pembelaan suami pada istrinya. Ayah pada anaknya, ataupun kakak pada adiknya.

Pembelaan itu berpengaruh? Sangat mungkin. Tapi kalau mengubah kesalahan menjadi seolah tampak benar, nanti dulu. Mari kita dudukkan masalah ini satu persatu. Fitnah memang keji. Dan akupun tidak sepakat dengan cara-cara ini. Tapi, kita juga harus menyimak dengan jeli. Darimana sebenarnya asap itu berhembus. Karena dari “api kesalahan” yang kau buat bukan? Karena pengalaman umrahmu kau jadikan sebagai pijakan.

Padahal ini terkait kejadian besar yang masih dalam penyelidikan. Data yang kau sajikan pun tidak tepat hingga berujung pada kacaunya kesimpulan. Kemudian tulisanmu dengan cepat menyebar ke berbagai kalangan dan pembahasan. Menuai pro dan kontra. Mengapa tanyamu? Karena kau penulis terkenal yang menorehkan jutaan kata di berbagai media. Karena kali ini (mungkin) kau tampak mengejar deadline. Bukan seutuhnya sedang berupaya menyampaikan kebenaran.

Maka, langkah pertama yang seyogianya kau pilih adalah mengakui kesalahanmu dan minta maaf. Pada manusia dan juga Rabb alam semesta. Kedua, tarik untaian kalimat yang telah membuatmu tergelincir pada kekeliruan. Ketiga, iringi perbuatan salahmu yang telah lalu dengan perbuatan baikmu. Semoga Allah mengampuni, dan manusia menerimamu kembali.Kau marah tentang fitnah itu? Wajar.

Sebagian orang juga marah dengan tulisanmu yang lalu. Karena ada kalanya marah itu bentuk sayang, tak berarti selalu dendam. Dan tidak semua yang marah itu yang kemudian menghujatmu.Seperti aku, yang juga marah padamu karena tulisanitu. Tapi aku tidak membencimu. Apalagi sampai hati memfitnahmu. Bagaimanapun, kau tetap saudariku. Bahkan kau pernah menjadi inspirator di saat-saat awal aku memberanikan diri bekarya lewat kata, 13 tahun silam.

Tentang fitnah itu padamu, sangat mungkin datang dari orang-orang yang dengki kepadamu. Atau berandal yang mengambil keuntungan di situasi keruh. Jika memang tidak benar, maka kau tidak perlu khawatir. Kebenaran akan selalu membuka jatidirinya. Kini atau nanti.Semoga dengan ini kau memahami, ada pula hati-hati yang telah kau sakiti. Dengan atau tanpa kau sadari.Semoga dengan ini kau memahami, dirimu bukan satu-satunya korban di sini.Mari, bersama kita semakin mawas diri. Untuk lebih berhati-hati dan menjaga hati.

* Epilog “Ketika Fitnah Menuai Fitnah”Semoga ini bernilai ishlah… Yaa Rabbi… bimbinglah kami…” (Nunu Karlina)