SPI Membahas Kristen Barat yang Ter-sekuler-kan

Sekolah Pemikiran Islam (SPI) yang bekerja sama dengan Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar kembali mengadakan perkuliahan Class for Study Islam and Liberalism. Sabtu, 26 September 2015, kuliah ketiga digelar di Basement Universitas Al-Azhar Indonesia di Jl. Sisingamaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Materi keenam disampaikan pada pukul 13.00-17.30 WIB, membahas tema “Sekulerisme dan Materialisme” yang disampaikan oleh Akmal Sjafril, founder gerakan #IndonesiatanpaJIL (ITJ).

Dalam pembahasannya, Akmal mengutip penjelasan M. Naquib al-Attas yang menyatakan bahwa Kristen telah mati di Barat, sebab ia terpaksa mengikuti arus sekulerisme dan orang-orang Kristen menganggap bahwa sekulerisme adalah konsekuensi dari agama Kristen. Dengan kata lain, Kristen telah tersekularisasi.

Lebih lanjut, penulis buku Islam Liberal 101 ini juga mengatakan bahwa orang yang sekuler memiliki cara berpikir materialistis. “Sekularisme, meski tidak sama dengan Ateisme, pada hakikatnya sama-sama menjauhkan manusia dari agama. Padahal, agama mengajarkan manusia akan makna dan hakikat yang tidak bersifat kebendaan. Dengan kata lain, agama mengajarkan cara berpikir yang tidak berorientasi pada kebendaan. Oleh karena itu manusia yang jauh dari agama atau tersekulerkan akan memiliki cara berpikir yang materialis,” ungkap Akmal.

Selain itu, Akmal juga menegaskan bahwa agama Kristen sampai saat ini masih memiliki problem internal. “Problem pertama dalam agama Kristen adalah mengenai sejarahnya. Sejak dahulu Gereja mengajarkan kekerasan dan banyak penyimpangan yang dilakukan oleh pemuka agama. Problem kedua dalam agama Kristen adalah mengenai teks Bibel. Ayat-ayat dalam Bibel bertentangan satu sama lain, tidak seperti Al-Qur’an yang saling menguatkan satu sama lain. Selain ayat-ayatnya bertentangan, Bibel juga bertentangan dengan sains dan tidak mengajarkan norma yang baik. Problem ketiga dalam agama Kristen adalah seputar aspek teologisnya. Konsep Trinitas dan konsep-konsep lainnya sangat sulit dimengerti oleh akal sehat, lagipula konsep-konsep tersebut banyak yang merupakan hasil kesepakatan bersama para pemuka agama,” tegas Akmal mengutip pendapat Dr. Adian Husaini.

Akmal memperingatkan bahwa sekularisme memiliki daya hancur yang hebat terhadap agama, sebagaimana yang telah terjadi di Barat. “Sekularisme adalah ideologi yang lahir di Barat dan merupakan produk spesifik dari pengalaman masyarakat Barat. Sekularisme membawa dampak pemikiran yang sangat dahsyat kepada Barat, sehingga Kristen tidak lagi mewarnai Barat, tapi Barat-lah yang mewarnai Kristen,” pungkas Akmal di akhir perkuliahan.

Alhamdulillah, kuliah tadi sangat mencerahkan dan membuka wawasan lebih luas bagi saya. Materi dan penjelasannya sangat berbobot. Salut untuk mas Akmal,” ucap salah seorang peserta SPI angkatan ke-3, Adiadwan Herrawan, seorang konsultan manajemen yang juga aktif sebagai pengurus Masjid dan Mushalla BSD.

 

 

Rizki Dwi Siswanto