Hore hujan……! Kembalinya Kawan Lama Yang Sempat Hilang

Hujan di daerah Bogor. Sumber gambar: akuiniobenk.wordpress.com

Sekitar 30 tahun yang lalu, dalam satu tahun hasil amatan menyatakan hanya sekitar 9 hari Kota Bogor yang tak disentuh hujan, dan Bogor memang dikenal sebagai Kota Hujan. Dari Warung Legok ke Pasar Anyar belum ada angkot, pada waktu itu transportasi di monopoli oleh Delman. Jalananpun belum diaspal sebagaimana layaknya, yang ada hanyalah jalan tanah sedikit berbatu, bisa dibayangkan hujan-hujan naik Delman ketika turun langsung disambut becek. Tapi tetap tidak masalah, karena kaki ini sudah terlatih dan lincah mencari pijakan-pijakan batu yang menonjol atau tanah yang masih kering menghindari tanah becek disiram hujan.

Kemanapun bepergian baik ke kantor, kuliah ataupun ke pasar siap sedialah payung. Sedia payung sebelum hujan sudah membudaya di Kota Bogor, kalau hujannya lebat sedialah jaket hujan karena tiada hari tanpa hujan, meski hanya untuk sebuah rintik kecil. Naik Delman di saat-saat itu terasa nikmat, hembusan angin dingin diiringi bau benda bulat-bulat hijau tua yang berjatuhan dari pantat kuda serta ditingkah tampias hujan dari kendaraan tradisional tanpa dinding ini, rasanya “sesuatu banget”.

Sekarang semua tinggal kenangan, segalanya menjadi sangat berbeda. Akhir-akhir ini dari bulan ke bulan, hari berlalu tanpa titik hujan singgah menyiram tanah Kota Bogor. Bogor berubah menjadi kota yang mengharap hujan, air sumur masyarakat mengering, tanaman gersang, tanah merekah cuaca panas, ditingkah jalanan yang macet. Bogor berubah menjadi Kota Seribu Angkot. Penduduk sangat merindukan hujan, mengharap Bogor kembali ke wajah aslinya. Tidak seperti sekarang, panas, macet, kering kerontang dan bahkan air untuk kebutuhan hidup sehari-hari di pinggiran Bogor sepertinya harus dibeli.

Maka ketika sore ini hujan datang, penduduk sangat-sangat bergembira. Status fesbuker Bogor mengindikasikan itu, WA Grup bersiliweran ungkapan-ungkapan kegembiraan akan datangnya hujan. Beberapa rekan saling info seperti: “taman yasmin hujan, bogor country hujan, taman cimanggu hujan, taman saripersada hujan, simpang lotte mart banjir”, menariknya semua diungkap dengan nada gembira. WA bersahut-sahutan saling memberi petunjuk arah jalan pulang agar tidak terjebak banjir. Saya sendiri juga terbantu, yang biasanya pulang lewat Jalan Johar, sore menjelang malam itu saya jalan memintas melewati Perumahan Taman Cimanggu, sehingga terbebas dari jebakan banjir.

Hujan adalah kawan lama yang sempat hilang, hujan adalah identitas Kota Bogor yang sudah sangat menyatu dengan derap langkah kehidupan Bogor, dan setelah sekian lama puasa hujan, kini sang hujan datang kembali. Menyirami Bogor kota yang indah, menyirami jiwa-jiwa yang gersang, menyirami dahaga kesejukan, menyirami tanah yang kerontang, dan hujan yang menyirami kehidupan. Selamat datang hujan, kawan yang dirindukan. Rahmat Allah yang dinanti. Alhamdulillah.

Androecia Darwis
Bogor 28 September 2015