Dunia yang Datar dan Asma yang Tak Lagi Nadia?

Nama Thomas L Friedman tiba-tiba saja terbayang saat saya membaca tulisan Asma Nadia di Republika. Dalam bukunya The World is Flat, Friedman menulis bahwa dunia telah menjadi datar.  Asma, Sang Novelis kondang itu telah menjadi korban dari gagasan Friedman.

Friedman mengistilahkan dunia yang mendatar karena menyaksikan fenomena kian mengecilnya dunia. Keberadaan internet yang membuat manusia terkoneksi satu dengan lainnya menjadikan dunia tak lagi besar. Dengan cepat dan mudahnya kita terhubungkan dengan orang lain di belahan dunia manapun. Termasuk setiap peristiwa yang terjadi di ujung Kutub Utara sekalipun. Dalam hitungan detik, informasi kita dapatkan.

Tragedi Mina 2015 menjadi kasus paling mutakhir yang membuktikan telah mendatarnya dunia. Informasi seputar peristiwa tersebut datang bagai gelombang yang tak bisa terbendung. Awalnya soal jumlah korban yang berjatuhan. Seiring waktu, kabar yang masuk bergeser menjadi tentang musabab tragedi terjadi. Dari soal kedatangan rombongan kerajaan hingga jamaah Iran dan Syiah.

Informasi penyebab tragedi tersebut bersesakan memadati ruang publik bahkan hingga ke smarphone kita via media sosial semacam BBM, WhatsApp dan sejenisnya. Begitu cepat dan massifnya kabar yang berdatangan hingga kita pun tak memiliki kesempatan untuk tabayyun dan menelaahnya. Tragedi Mina akhirnya berubah menjadi medan perang informasi yang dapat memunculkan korban. Dan sayangnya, korban dimaksud seorang wanita sarat prestasi bernama Asma Nadia.

Tulisannya yang berjudul Karpet Merah Perenggut Nyawa membuat saya dan bisa jadi,  Anda pun akan  tercengang. Dari judulnya saja, tergambar jelas ke arah siapa tulisannya ditujukan. Kian terkonfirmasi ketika kita membaca tulisan tersebut secara utuh. Asma, dengan memberi bumbu pengalaman umrohnya, menuduh kehadiran rombongan kerajaan menjadi asbabnya.

Patutkah tokoh sekaliber Asma menyimpulkan dengan cepat peristiwa memilukan itu? Ada beragam versi tentang penyebab kejadian, tapi mengapa Asma hanya mengambil satu versi? Mengapa Asma tak menyimpulkan bahwa tragedi tersebut terjadi akibat rombongan jamaah haji Iran yang mengambil arah berlawanan dengan cara menerjang arus utama jamaah haji yang hendak melontar jumrah? Mengapa Asma tak menunggu hasil investigasi utuh sebelum membuat kesimpulan prematur?

Dengan karya tulisnya yang telah menginspirasi banyak orang di negeri ini, sungguh tak masuk akal Asma dengan gagah berani menyimpulkan akar masalah Tragedi Mina yang patut diduga  hanya berdasarkan informasi yang ia dapatkan dari media. Jauh lebih pantas jika ia menelaah soal ini secara menyeluruh. Tapi, kita tidak pernah tahu ada alasan apa dibalik itu semua.

Kita harusnya menjadi orang yang tak tergesa-gesa membuat konklusi sebuah peristiwa, apalagi yang berhubungan dengan umat Islam. Semua kemungkinan bisa menjadi penyebabnya: dari buruknya manajemen pengelolaan haji pemerintah Arab Saudi, kedatangan rombongan kerajaan hingga konspirasi Syiah dan Zionis Yahudi. Jika kemudian begitu mudahnya Asma menuding pihak kerajaan sebagai pihak yang bertanggungjawab, maka tak bisa disalahkan jika ada pihak lain yang berkesimpulan bahwa Iran dan Zionis Yahudi ada di balik tragedi tersebut.

Karya-karya novel Asma Nadia telah melambungkan namanya dan memberikan harapan kepada banyak orang, terutama umat Islam, persis seperti arti nama beliau. Asma: mulia atau tinggi dan Nadia: harapan. Namun, dengan telah menjadi korban dari The World is Flatnya Friedman, dapatkah disimpulkan bahwa Asma tak lagi Nadia?

Ahh… saya, Anda dan kita semua tentu tak berharap itu terjadi. Kembalilah menjadi Nadia, Mba Asma….

Erwyn Kurniawan

  • Samsul Bahri

    Asma: mulia atau tinggi dan Nadia: harapan.

    Asma tak lagi Nadia = Mulia tak lagi harapan ?
    Atau yang bener : Nadia tak lagi Asma