Di Balik Cambuk Berdarah

TKI wanita. [wartakota.tribunnews.com]

Sore tadi sudah kukirim ke kampung Nak, uang yang kau minta. Di sini, di negeri ini Ibu merasa terasing, sepi di keramaian. Setiap pesan pendek yang kau sampaikan, setiap itu pula dada bergetar, jantung berdegup kencang. Kilatan cambuk melayang, bayangan tangan yang menggampar serta cacian mempurukkan jiwa, ikut berjasa mengantarkan kepergian uang sampai ke tanganmu Nak.

Tak ada yang gratis di dunia ini, setiap kali engkau memanggilku Ibu, menyerukan rindu, setiap kali itu pula mereka menyebutku babu. Babu..? Ah dunia, sungguh dikau begitu kejam, untuk seorang yang tak sempat mengenyam bangku sekolahan seperti diriku.

Aku memang babu, hinakah? Aku memang pembantu yang mungkin profesi yang tak pernah dicita-citakan oleh siapapun. Aku memang sedang tertunduk lesu, kelu dan mungkin juga haru, di seberang laut biru. Tapi semangatku masih menderu, untuk dirimu, untuk dikau anak-anakku yang telah lama kehilangan ayah.

Uang kiriman itu Nak, tetesan keringat Ibu bersimbah luka darah. Luka yang selalu saja bertambah, luka yang tak mengenal obat, luka benturan kepala di dinding, luka strika panas di siang  terik, luka yang merebak di tangkai sapu, luka yang menusuk menghujam kalbu, luka yang menyeruak dalam jerit pilu. Dalam toreh siksa yang parah, di rutinitas keseharian negeri antah berantah, oleh orang-orang yang serakah. Tapi yakinlah Nak, itu uang penuh berkah. Demi masa depanmu yang kuinginkan cerah.

Matahari ini kan terus berjalan Nak, bulan berputar, waktu berganti. Di balik kesedihan dan penderitaan ini, Ibu bangga menjadi bagian dari sosok pahlawan. Orang menyebutnya sebagai pahlawan devisa. Sekolah Ibu tak cukup ‘tuk memahami apa itu devisa. Ibu hanya tak ingin menyusahkan siapa-siapa, termasuk menyusahkan negara. Ibu juga tak paham apa arti kepahlawanan, pahlawan rakyat jelata, negeriku tercinta Indonesia.

Androecia Darwis