Terima Kasih Anakku

Penulis: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari (Abah Ihsan)

Sebagian orang berkata, orangtua adalah guru pertama untuk anak-anak. Tapi bagi Abah, kalian adalah guru dan motivator hidup Abah.

Sebagian orang berkata, anak-anak adalah beban hidup orangtua. Tapi bagi Abah, kalian adalah anugerah terindah.

Sebagian orang pusing karena anak-anaknya banyak meminta. Tapi bagi Abah, kalian sungguh banyak memberi.

Kalian memberi Abah gairah kerja. Tak terbayang, sungguh tak terbayang, jika Abah bekerja untuk punya banyak kendaraan, punya banyak tanah, punya banyak rumah, punya banyak uang, tanpa punya anak seperti kalian, Abah sering berpikir “Jika abah mati, untuk apa itu semua? Untuk apa punya banyak uang? Mau dikemanakan setelah semua punya?”

Karena kalian Abah jadi punya harapan. Ya, karena harapan itulah Abah jadi terus bergerak, terus melakukan sesuatu, terus bekerja.

Tanpa kalian, untuk apa bekerja banyak-banyak? Untuk apa punya uang banyak? Toh mati tidak bawa itu semua.

Kalian mengajarkan Abah keramahan.

Abah pulang, kalian menyambut dengan riang.

Abah datang, kalian berjingkrang girang.

Sungguh, kalian tidak tahu, hati Abah yang paling riang, hati Abah yang girang. Tersipu saat kalian tersenyum indah.

Sementara Abah? Aduh kok sering lupa beri senyum pada orang. Tak selalu ingat untuk rendah hati pada orang. Hm… Abah harus benar-benar menyimak pelajaran dari kalian.

Kalian mengajarkan Abah menjadi pemaaf. Kalian memang sering ribut, kalian memang berkali-kali berantem, kadang menangis, menjerit, berteriak. Tapi eh, beberapa saat kemudian kalian tertawa riang bersama.

Betapa kalian tak pendendam. Betapa mudahnya kalian saling memaafkan.

Sementara Abah? Saat ada orang menyakiti, sungguh enggan lagi bersilaturahmi, jadi malas berkomunikasi.

Aduh.. malunya Abah sama kalian..

Kalian mengajarkan Abah keberanian.

Curtain, kalian jadikan ayun-ayunan.

Tangga, kalian jadikan seluncuran.

Setiap gambar origami, kalian coba berkali-kali.

Kalian benar-benar suka tantangan. Kalian tidak takut gagal. Kalian coba terus. Kalian tidak takut kesulitan.

Eh pas kalian gagal, ya sudah ganti yang lain! Kalian tak memperumit keadaan.

Sementara Abah? Allah kasih satu kesulitan saja pusingnya minta ampun.

Diberi kerjaan gampang cari kebosanan.

Saat kesulitan, gampang cari kesalahan orang. Wuaduhhh…

Kalian mengajarkan Abah tak malu dengan kebaikan. Apapun yang kalian anggap baik, seperti terindah di mata kalian.

Saat kalian naik taksi, “nanti besar pengen jadi supir taksi”. Saat naik becak “nanti besar pengen jadi tukang becak”.

Saat lihat ensiklopedi “aku ingin jadi peneliti”. Saat lihat mobil balap “aku ingin jadi pembalap”.

Sementara Abah? Masih malu antarkan ibu kalian antarkan dagangan. Wehhhh…

Ih.. abah jadi malu sama kalian. Tapi tetep, Abah sayang kalian..
Sun sayang untuk Salma, Syahid, Syarifah & Saveero (sekarang plus dede Sabbas ya .. hehe)

Abah

Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
www.auladi.net
@abahihsantea