Bukannya Sholat Istisqo, Daerah Ini Minta Hujan dengan Saling Cambuk

Ritual Tiban. [inilahblitar.blogspot.com]

Kekeringan yang masih melanda Indonesia diperkirakan belangsung cukup lama beberapa daerah mensikapinya dengan cara teknis sistem maupun rekayasa teknologi.

Namun ketika semua cara telah dilakukan masih belum berhasil maka, maka kepasrahan kepada sang pemilik alam yang harus dilakukan.

Di beberapa daerah, Bandung dan kota Bekasi, masing masing kepala daerah menggerakan perangkat daerah dan masyarakat untuk menundukkan kepasrahannya dengan melakukan shalat istisqo dan berdoa, akhirnya hujanpun turun.

Namun di daerah ini, punya cara sendiri dalam meminta hujan, mereka malah menyakiti diri sendiri dengan cara bertarung saling cambuk.

Mereka ingin beradu kekuatan demi mendatangkan air hujan. Pemandangan itu adalah ritual minta hujan, yang berlangsung di tengah sawah, Dusun Pakel, Desa Bangle, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Rabu (16/9/2015) siang.

Ritual minta hujan yang dikenal dengan ritual Tiban itu kali ini diikuti puluhan orang.

Rata-rata pesertanya sekitar 25 pasang dalam sehari. Itu akan dilakukan selama 14 hari. Jika dalam waktu 14 hari belum turun hujan, akan diperpajang sampai 7 hari lagi, dan hingga turun hujan.

Menurut Wakidi (68) orang yang dituakan di wilayah itu mengatakan bahwa acara ini bukan pertandingan kalah atau menang.

Namun, ini adalah ritual. Karena itu, semakin banyak peserta yang terluka apalagi sampai berdarah, diyakininya kian memcepat turunnya hujan.

“Luka itu merupakan bentuk pengorbanan bagi warga, yang butuh air hujan. Karena itu, mereka rela mengorbankan darahnya keluar demi ingin mendapatkan air hujan. Dan, itu sudah kami lakukan sejak nenek moyang dulu,” tuturnya.

Mungkin saja, papar Wakidi, Tuhan berbelas kasihan dan tak tega, mengetahui ada orang yang rela bersakit-sakitan, demi mendapatkan air hujan.

“Biasanya, hujan itu turun ketika ritual ini sudah berlangsung 14 hari. Itu biasanya diawali dengan hujan rintik-rintik. Kalau sudah ada hujan, ritual ini ya dihentikan,” pungkasnya.

Di Kabupaten Blitar ini, ritual Tiban itu hanya ada di desa itu. Itu berlangsung sejak nenek moyang dulu. (holil)