Jokowi, Musibah, dan Godaan Aqidah

[foto: harianterbit.com]

Sudah menjadi qodarullah – ketetapan Allah – beberapa bencana terjadi tepat saat Presiden RI Jokowi berada di sekitar tempat itu. Lantas ada saja yang menyangkut-pautkan musibah yang terjadi dengan kehadiran Jokowi.

Pada Kamis 16 April 2015 lalu, Satuan Penanggulangan Teror (Satgultor) TNI terjatuh dari Gedung Sudirman saat melakukan atraksi penyelamatan sandera oleh teroris di Mabes TNI, Cilangkap. Atraksi ini sejatinya merupakan rangkaian acara pembaretan sekaligus pengangkatan Presiden Joko Widodo sebagai warga kehormatan Pasukan Khusus TNI. Jokowi tentu saja berada di sana saat kejadian.

Dua bulan berikutnya, pada 11 Juni 2015, saat digelar pesta pernikahan putra pertama Jokowi Gibran Rakabuming Raka dengan Selvi Ananda, seorang tukang becak meninggal usai mengantar tamu. Tukang becak itu bernama Sutarmin, warga Dusun Tunjungan, Desa Bedoro, Kecamatan Sambungmacan, Sragen. Sutarmin tiba-tiba jatuh dan terjerembab masuk selokan di Lapangan Banyuanyar, Solo. Kepalanya terbentur dan setelah itu dirinya tidak sadar.

Kemudian musibah terjadi di Tol Cikapali. Baru saja Jokowi meresmikan pengoperasian jalan tol sepanjang 116,75 ini, selang beberapa jam sebuah mobil Avanza warna hitam nomor polisi B 1246 UZM arah Cikampek mengalami kecelakaan. Musibah ini terjadi pada Sabtu (14 Juni 2015)

Dan terakhir yang masih hangat, sebuah alat berat proyek (crane) jatuh di Masjidil Haram, Mekkah pada Jumat (11 September 2015) bertepatan dengan saat Jokowi mendarat di tanah suci.

Kejadian-kejadian itu tentu saja menjadi “godaan” bagi pihak yang tak senang dengan Jokowi untuk menghubung-hubungkannya. Jokowi menjadi kambing hitam atas musibah-musibah itu. Padahal publik tahu, Jokowi tak punya andil apa-apa atas terjadinya kecelakaan.

Pelaku yang mengambing hitamkan Jokowi rentan tergelincir aqidahnya. Karena Rasulullah saw telah melarang “At-Thiyaroh”. Yakni menyangkut pautkan nasib sial dengan sesuatu yang kebetulan terjadi bersamaan, namun sejatinya tak memiliki hubungan.

Rasulullah saw telah menyampaikan pesan,

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya tanpa kehendak Allah swt), tidak ada tiyaroh (mengkaitkan nasib buruk dengan apa yang dilihat atau didengar), tidak ada burung yang menunjukkan akan ada anggota keluarga yang mati, dan tidak ada kesialan di bulan shofar” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Tathayyur adalah menganggap sial dengan apa yang dilihat dan apa yang didengar. Bila seseorang melakukan tathayyur ini, ia membatalkan safar yang semula hendak dilakukannya dan ia menarik diri dari perkara yang semula ia bersikukuh padanya, dengan begitu berarti ia telah mengetuk pintu kesyirikan bahkan ia telah masuk ke dalamnya. Ia berlepas diri dari tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia membuka untuk dirinya pintu ketakutan dan bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sekalipun dimaksudkan becanda, tentu tidak baik becanda dengan aroma tathayyur seperti ini. Perkataan-perkataan buruk entah itu candaan atau serius selalu menjadi umpan bagi setan untuk mempengaruhi manusia. Setan bisa menelusupkan lintasan pikiran berupa tathayyur ini, menyisipkan sedikit was-was di hati manusia yang mendengar perkataan tathayyur ini. “Jangan-jangan memang benar musibah itu terjadi karena ada Jokowi di situ.”

Bila musibah yang dimaksud itu berupa menurunnya daya beli masyarakat, gelombang PHK di mana-mana, dan berbagai hal yang terjadi akibat kebijakan Jokowi, maka sah-sah saja menyalahkan sang Presiden.

Tetapi atas kejadian-kejadian yang disebutkan di awal tulisan, menjadi tidak rasional menghubungkannya dengan Jokowi. Bahkan bisa merusak aqidah.

Ghiroh Tsaqofy