Krisis Pengungsi: Jerman Akan Tutup Perbatasan

Pengungsi Suriah tiba di Jerman. [theguardian.com]

Jerman akan memperketat perbatasan dan akan keluar sementara dari sistem Schengen, menurut laporan media, setelah sebuah wilayah negara itu mengatakan mereka tidak bisa lagi mengatasi sejumlah besar pengungsi yang tiba dari Austria.

Menurut Der Spiegel, Menteri Dalam Negeri, Thomas de Maiziere, siap untuk mengumumkan tindakan pembatasan baru pada konferensi pers di Berlin pada hari Minggu, termasuk menutup perbatasan negara, mengirim ratusan polisi tambahan untuk Bavaria dan hanya membolehkan masuk ke Jerman untuk paspor yang masih berlaku.

Jerman juga telah menghentikan semua kereta memasuki negara itu melintasi perbatasan selatan dengan Austria, jalur utama bagi 450.000 pengungsi yang telah tiba di Jerman tahun ini.

Langkah-langkah darurat dirancang untuk memberikan beberapa tangguh untuk negara federal Jerman yang bertanggung jawab untuk menjaga pengungsi. Ada juga diskusi di dalam pemerintah tentang pengiriman pasukan ke perbatasan dengan Austria, untuk memperkuat keamanan, Der Spiegel melaporkan.

Langkah ini muncul di tengah kejadian luar biasa di stasiun kereta utama Munich selama akhir pekan dan reaksi tumbuh di Jerman atas keputusan minggu lalu oleh Kanselir Jerman, Angela Merkel, untuk memungkinkan pengungsi terdaftar untuk memasuki negeri itu.

Pada hari Sabtu, 13.015 pengungsi tiba di stasiun kereta dari Austria, sebanyak 1.400 lainnya datang pada hari Minggu pagi. Wali Kota Dieter Reiter, mengatakan kota Munich “penuh”, dengan kapasitas yang benar-benar habis. Beberapa pengungsi tidur di stasiun pada Sabtu malam.

Langkah mengejutkan Jerman ini terjadi di tengah perdebatan dalam tubuh Uni Eropa tentang bagaimana berurusan dengan puluhan ribu pengungsi yang tiba di Eropa, dalam krisis pengungsi terburuk di benua itu selama 70 tahun. Pada hari Minggu, negara-negara Eropa Timur kembali bersikeras tidak akan menerima rencana kuota pengungsi wajib.

Menteri dalam negeri dari 28 negara Uni Eropa bertemu di Brussels pada hari Senin. Mereka akan membahas rencana yang ditetapkan pekan lalu oleh Jean-Claude Juncker, Kepala Komisi Eropa, untuk mendistribusikan 160.000 pencari suaka di wilayah itu. Para pengungsi akan dialokasikan ke masing-masing negara atas dasar luas wilayah dan kekayaannya.

Jerman, Austria, dan Prancis mendukung usulan tersebut. Tapi mereka menghadapi oposisi dari negara-negara Uni Eropa lainnya termasuk Hungaria, Slowakia, Republik Ceko, dan Polandia. Pada hari Minggu, Perdana Menteri Ceko, Bohuslav Sobotka, mengatakan, “Saya pikir tidak mungkin untuk mundur. Posisi kami kuat.”

Otoritas Yunani, sementara itu, mengatakan 28 orang telah tenggelam, setengah dari mereka anak-anak, setelah penyelundupan perahu kayu mereka terbalik di laut Aegean. Insiden itu terjadi sebelum fajar pada hari Minggu di pulau Yunani Farmakonisi. Penjaga pantai Yunani menarik 68 orang dari air, 30 orang lainnya berhasil berenang ke darat.

Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orbán, menyalahkan Berlin dan keputusan Merkel untuk membuka perbatasan Jerman. Budapest berpacu untuk menyelesaikan pagar di perbatasan dengan Serbia, di mana 4.330 orang menyeberang pada hari Sabtu. Pada hari Selasa, memberlakukan hukum yang ketat yang membuat penyeberang perbatasan dihukum penjara.

“Imigran ini tidak datang dari zona perang, tapi dari kamp-kamp tetangga Suriah. Jadi orang-orang ini tidak melarikan diri dari bahaya dan tidak perlu takut akan hidup mereka,” kata Orbán kepada koran Jerman, Bild. “Para pemimpin Eropa hidup dalam dunia mimpi”, tambahnya.

Sikap populis garis keras Orbán telah membuat jengkel tetangganya. Kanselir Austria, Werner Faymann, mengatakan perlakuan kasar Hungaria kepada pengungsi itu mengingatkan pada Perang Dunia Kedua. “Menumpuk pengungsi di kereta api dengan harapan bahwa mereka pergi jauh, membawa kembali kenangan masa tergelap benua kami,” katanya kepada Der Spiegel.

Faymann menyarankan bahwa jika tidak ada konsensus tercapai pada Senin di Brussels, Jerman dan sekutunya bisa mencoba untuk memaksa melalui pemungutan suara. Dia juga memperingatkan bahwa Austria dan Jerman – keduanya kontributor anggaran Uni Eropa – akan mempertimbangkan sanksi terhadap negara yang bersikeras menolak untuk berbagi beban pengungsi.

Ini mungkin termasuk memangkas beberapa dana struktural Uni Eropa dinikmati oleh sebagian besar negara-negara Eropa Timur”, kata Faymann.

Wilayah federal Jerman, sementara itu, telah mengatakan bahwa mereka berjuang untuk mengatasi masuknya manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pemerintah kota Berlin telah menyiapkan dua ruang olahraga di samping stadion Olimpiade untuk tempat tinggal bagi para pendatang. Dipertimbangkan, penggunaan velodrome, hanggar kosong di gedung pameran, dan bandara Tempelhof yang ikonik.

Partai CSU menuduh Merkel membuat “kesalahan sejarah yang tak tertandingi” dengan membuka perbatasan Jerman. Pada hari Minggu, Christoph Hillenband, Presiden Bavaria Atas, mengatakan sistem penanganan pengungsi hampir runtuh. Sebanyak 63 ribu orang telah tiba di Munich sejak akhir Agustus, katanya.

Mustafa Alomar, seorang pengungsi dari Manbej, dekat Aleppo di Suriah, mengatakan ia bersimpati pada orang Eropa yang mengatakan krisis pengungsi bukan masalah mereka. Namun dia menambahkan, “Pada akhir hari jika Anda tinggal di Suriah Anda akan dibunuh. Itu ,benar, terlepas dari apakah Anda miskin, kelas menengah atau kaya.”

Alomar, mantan mahasiswa sastra Inggris di Aleppo University, tinggal di tempat penampungan pengungsi di Berlin. Keluarganya berada di sebuah kamp di Suriah dekat perbatasan Turki. Dia mengatakan tiga temannya tenggelam setelah kapal mereka dari Libya ke Italia tenggelam. Dia adalah satu-satunya yang selamat.

“Kami bukan malaikat atau setan. Kami hanya manusia, “katanya. (theguardian/sa)