Jualan Buku Tuntunan Sholat, Kepandaian Bapak Tua Ini Bikin Kaget

Pak Sutan.

Don’t Judge a Book by It’s Cover.” Begitulah judul status yang ditulis oleh pemilik akun Facebook bernama Khairina Sabila Adriani. Judulnya memang terdengar biasa di telinga kita, tapi tidak dengan kisah seorang bapak tua yang dia temukan di kota kembang, Bandung, tepatnya di Jalan Pasteur.

Bapak tua ini ia jumpai di Jalan Pasteur saat menawarkan buku Tuntunan Sholat kepada pejalan kaki yang lewat. Kisah ini bukan soal buku yang dia tawarkan, melainkan tentang kepandaiannya.

Saat dia ditanya, “Berapa harga bukunya, pak?”
Bapak ini menjawab dengan tegas, “Ten Thousand Rupiah.”
Lalu dia balik bertanya, “Sekolah apa?”
Khairina menjawab “Manajemen.”
Dengan cerdasnya si bapak membalas, “Oh, kalau manajemen itu prosesnya harus melalui tahap Planning, Organizing, Leading, dan Controlling.”

Mengagetkan sekali kepandaian si bapak. Belum selesai sampai disitu, beliau pun bertanya pada adik Khairina, “Sama, kuliah juga?” Dan si adik menjawab “Iya, perencanaan kota.” Dan si bapak dengan cerdasnya mengatakan “Oh, itu kan Planologi.”

Pak Sutan, nama penjual buku ini, mengaku kepandaiannya ini didapat secara otodidak dari hasil membaca buku-buku yang dia jual. Karena hobi membacanya itu, dia jadi banyak tahu tentang segala jenis teori-teori dalam ilmu perkuliahan, termasuk teori dari bapak psikologi, Sigmund Freud.

Kisah Pak Sutan ini membuat saya teringat sebuah kisah di zaman Rasulullah SAW, ada seorang sahabat mulia yang dijamin masuk surga, dialah Abdullah bin Mas’ud.

Abdullah bin Mas’ud hanyalah seorang budak yang mampu menghafal Quran dalam waktu singkat. Dan dialah imam yang selalu Rasulullah pilih untuk memimpin setiap shalat. Seorang budak memimpin shalat umat Islam saat itu karena dikaruniai kepandaiannya dalam ilmu Quran.

Maka dari itu, sebagai muslim yang baik, kita tidak boleh merendahkan, menganggap remeh orang yang kekurangan dari segi harta, pangkat, bahkan fisik. Karena mungkin, di dalam hatinya, pikirannya tersimpan banyak kemuliaan yang tidak kita ketahui. (nurul septiani)