Yusuf as dan (katanya) Zulaikha

Ilustrasi. [foto: joyfulpapist.wordpress.com]

Kisah Nabi Yusuf as (Yusuf) memang bak drama penuh krisis yang mengundang banyak rasa. Ada episode masa kecilnya yang mengharu biru, masuk istana, godaan perempuan di masa mudanya, masuk penjara dengan kasus bak festival, dakwahnya di dalam penjara, dan termasuk kisahnya kembali ke istana. Dan masih ada kisah pertemuan kembali Yusuf dan saudara-saudaranya.

Kali ini, tentang episode kembalinya Yusuf ke istana. Kisah ini ada di surah Yusuf ayat 43 sampai ayat 56.

Tabir Mimpi

Episode ini dimulai dari mimpi sang raja. Raja berkata kepada para elit negara tentang mimpinya. Tentang tujuh sapi betina yang gemuk memakan tujuh sapi betina yang kurus, tujuh bulir gandum yang hijau, dan tujuh bulir lainnya yang kering.

Al Malk -para elit- menjawab dengan kalimat pendek. Itu cuma mimpi yang kosong.

Gagal. Raja tidak mendapatkan apa-apa dari para elit.

Tapi ada seorang pelayan istana yang pernah bersama dengan Yusuf di penjara dan dia tahu kemampuan Yusuf. Pelayan ini menghadap para elit dan menyampaikan perihal Yusuf. Elit -yang memang sudah tidak berminat membantu raja- bersikap tak acuh. Pelayan ini jadi punya akses untuk menemui Yusuf di penjara. Merayu dan memuji. ‘Yusuf ayyuhash shidhdhiqun..’. Yusuf menyimak dan memberikan jawaban atau ta’bir mimpi. Yusuf menjelaskan dengan kepintaran, ketenangan dan penguasaannya terhadap keadaan. Yusuf tahu bahwa ini pasti bukan mimpi seorang pelayan.

Pelayan istana lalu menghadap raja. Dan raja tahu bahwa ini pasti bukan pikiran seorang pelayan. Maka respon raja adalah, ‘Bawalah dia kepadaku..’.

Kapasitas tak mudah dikaburkan.

Yusuf menunjukkan kecerdasannya. Bukannya aji mumpung. Dia ajukan semacam grasi. Dia ingin nama baiknya dipulihkan sebelum dia mempresentasikan ta’bir mimpi dan mempresentasikan program jangka panjang menghadapi situasi negara.

Pengadilan pun digelar kembali. Dihadirkan lagi para pihak. Istri al Aziz menuntaskan sejarahnya. Qolatimratil azizil ana hashhashal haq. Kini kebenaran telah terungkap. Dia -di depan tatapan publik- mengakui bahwa dia yang menggoda Yusuf. Sebuah keberanian luar biasa.
Yusuf tak pernah mengkhianati raja. Nama baiknya pulih.

Lalu Yusuf mempresentasikan langkah-langkah strategis menghadapi perubahan dan ancaman paceklik. Yusuf kembali ke jajaran elit. Yusuf menjadi bendahara negara. Makiinun amiinun.

Beberapa Karakter

Al Malk. Mereka elit yang pasti mendapatkan banyak fasilitas dan akses. Tapi lihat kinerjanya. Malas. Wegah repot. Dia cuma bisa bilang bahwa itu mimpi kosong. Memang mimpi yang mengandung banyak variable. Tapi, dikemanakan kenikmatan dan fasilitas itu? Tidak ada karya dan tidak berdaya. Bahkan bersikap tak acuh pada pelayan yang mencoba menjilat.

Pelayan istana. Tanpa kapasitas tapi ingin fasilitas. Tak bisa menutupi kekosongannya. Tak dipercaya Yusuf dan tak dipercaya raja.

Istri al Aziz. Berani. Berani keluar dari tekanan para elit. Mengambil risiko. Rasa cinta perempuan memang kerap melahirkan sikap yang tak mudah ditebak.

Raja. Cerdas. Peka. Gabungan antara seorang yang cerdas dan intuitif. Pendengar yang baik. Dan sangat bertanggungjawab. Demi kesejahteraan rakyatnya, dia mau membuka pengadilan ‘hanya’ untuk nama baik seorang Yusuf.

Jangan tengok kanan kiri. Karakter-karakter itu bagian dari kehidupan kita hari ini.

Pertanyaannya, bagaimana kita menuntaskan sejarah kita dengan husnul khatimah.

***

Yusuf akhirnya menikahi istri al Aziz. Memang sudah saling tertarik. Wa laqod hammat bihi wa hamma biha. Happy ending. Jingga-jingga.

Warna-warni kehidupan. Dalam hitamnya cerita ada sisi jingga. Ada merah, hijau, dan lain.

Kisah yang lengkap dan sarat pelajaran tentang karakter. Cuma, saya tak mampu menuliskan semuanya. Semoga ini bermanfaat. Teriring doa untuk segenap para ustad dan para murabbi saya.
Husnul Khatimah.

Eko Novianto