Hukum Memajang Foto dan Lukisan Makhluk Hidup

Ilustrasi. [foto: autometropolist.com]

Assalamu’alaikum Ustadz,

Apakah hukum memajang foto keluarga, lukisan hewan, kartun, dan kerajinan tangan yang ada makhluk hidupnya di dalam rumah?

Kristy, Cibubur

Jawaban:

Menyimpan dan memajang gambar makhluk hidup yang terbuat secara utuh, baik dari lukisan, rekaan, atau pahatan adalah terlarang.

عن أَبَي طَلْحَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ)
Diriwayatkan dari Abi Thalhah ra bahwa rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:  malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat gambar. (HR. Bukhari, 3226 & Muslim, 2106)

Dikecualikan jika gambar tersebut tanpa kepala atau ditujukan untuk permainan anak kecil, maka itu diperbolehkan.

عن ابن عباس رضي الله عنهما، قال النبي صلى الله عليه وسلم : ” الصورة الرأس ، فإذا قطع الرأس فلا صورة ” رواه الإسماعيلي، وصححه الألباني
Diriwayatkan dari ibni Abbas ra bahwa rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:  inti dari gambar adalah kepala, jika kepala telah terpotong maka tidaklah disebut gambar. (HR. Ismaili. Disahihkan oleh syeikh Al-Albani)

عائشة رضي الله عنها قالت: “كنت ألعب بالبنات عند النبي صلى الله عليه وسلم وكان لي صواحب يلعبن معي، فكان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل يَتَقَمَّعْن منه (أي: يتغيبن عنه)؛ فيسربهن إليّ (أي: يرسلهن إليّ) فيلعبن معي” (رواه البخاري).
Aisyah ra berkata:  pernah aku bermain boneka-boneka perempuan bersama teman-temanku. Ketika rasul masuk, maka teman-temankupun bersembunyi, lalu rasul meminta mereka kembali kepadaku sehingga mereka bermain lagi bersamaku. (HR. Bukhari)

Dikecualikan juga jika gambar tersebut adalah untuk kepentingan yang mendesak, seperti sketsa para buron agar mudah ditangkap, dll.

Gambar Hasil Kamera (Foto)

Adapun gambar yang dihasilkan dari kamera digital atau yang kita kenal dengan foto, maka ini adalah perkara nawazil (kontemporer) dan para ulama berselisih pendapat tentangnya.
Sebagian ulama mengharamkan berdasarkan keumuman hadits yang telah disebutkan. Namun mayoritas membolehkan dengan alasan foto kamera bukanlah hasil lukisan, rekaan atau pahatan, melainkan bentuk duplikat. Sama halnya dengan hasil foto copy atau bayangan yang ada di cermin.

InsyaAllah pendapat kedua ini lebih kuat. Artinya foto kamera diperbolehkan disimpan dan dipajang karena ia bukan gambar lukisan, rekaan ataupun pahatan. Tetapi dengan syarat tidak boleh ada unsur kemunkaran di dalamnya, seperti foto tanpa menutup aurat, foto yang digunakan untuk kesyirikan, dll.

Wallahu a’lam bishshowab..