Tafsir Kudeta Jokowi untuk Sang Penjagal

Istana Negara kedatangan tamu dari negeri Fir’aun Jumat (4/9). Namanya Abdel Fattah as-Sisi, Presiden Mesir hasil kudeta berdarah. Sebuah tafsir baru tentang kudeta pada akhirnya layak diapungkan saat Presiden Jokowi bersiap menyambut seorang Penjagal dengan penuh keramahan plus senyum khasnya.

As-Sisi berkunjung ke Tanah Air setelah dua tahun lalu mengkudeta Mohammad Morsi yang terpilih secara demokratis dalam pilpres 2012. Dalam rentang waktu yang relatif singkat itu, As-Sisi sudah banyak meninggalkan jejak darah, nyawa dan air mata di Mesir dengan membantai rakyat tak berdosa. Beberapa pembantaian yang dilakukannya antara lain: Garda Republik (8 Juli 2013); Stadion Manshuroh (19 Juli 2013); Monumen Sadat (27 Juli 2013); Nadhoh Square (14 Agustus 2013); Rabiah (14 Agustus 2013); Ramsis (16 Agustus 2013); Abou Zabal (18 Agustus 2013). Hasilnya: ribuan warga sipil tak bersalah tewas dan lebih dari 300 tahanan meninggal di dalam penjara.

Kunjungan As-Sisi ke Indonesia dan sambutan yang akan diberikan layaknya kepada tamu negara menjadi hal menarik untuk dicermati. Bagaimana mungkin negeri ini menyambut penuh keramahan seorang presiden kudeta yang tangannya berlumuran darah hingga detik ini? Bagaimana mungkin kita memberikan senyuman ramah kepada seorang presiden inkonstitusional di saat yang sama kita justru selalu mendengungkan soal ketaatan pada konstitusi?

Pada titik inilah akhirnya terbuka bagi kita untuk memberi tafsir baru tentang kudeta. Dalam kamus KBBI, kudeta adalah perebutan kekuasaan (pemerintahan) dengan paksa dan tidak secara sah. Berdasarkan pengertian ini, seharusnya tak ada satu pun negara yang mengakui keberadaan seorang presiden yang berkuasa dari hasil kudeta. Terlebih jika ia merebutnya dengan membantai rakyat tak berdosa. Pemimpin semacam ini harusnya diisolasi dari pergaulan internasional karena tak layak mendapat penghormatan.

Namun dunia memiliki tafsir tersendiri tentang kudeta. Banyak pemimpin hasil kudeta justru dihormati dan dirangkul, apalagi jika keberadaan pemimpin tersebut akan menguntungkan secara ekonomi dan politik. Negara-negara besar semacam Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia kerap melakukan ini: mengundang pemimpin kudeta, menjamunya dan mengajak hubungan bilateral.Dan hari ini, Indonesia dibawah kepemimpinan Jokowi menjejaki langkah serupa.

Akhirnya, kudeta tak lagi perbuatan nista dan dosa. Kudeta justru sebuah aksi heroik dan patut dihargai. Pemimpin yang dihasilkan tak lagi masuk kategori haram dan inkonstitusional. Mereka, para pemimpin hasil kudeta, adalah orang-orang terhormat dan harus diberikan karpet merah saat berkunjung ke Istana Negara, disambut upacara kenegaraan, dijamu makan malam dengan hidangan istimewa dan mendapat perlakuan VVIP selama bertamu. Semua perlakuan itu akan As-Sisi dapatkan di Indonesia meski namanya sudah terdaftar sebagai penjahat kemanusiaan di Dewan HAM PBB.

Salahkah Jokowi? Pertanyaan ini menjadi tidak relevan jika melihat sepak terjang pemerintahan Jokowi yang belum genap setahun. Karena, salah benar akhir-akhir ini semakin absurd. Yang justru membuat kita patut cemas adalah soal kesamaan chemistry rezim Jokowi dan As-Sisi.

Dengan melihat orang-orang di sekeliling Jokowi dan kebijakan yang telah diambil selama ini, rezim Jokowi juga berpotensi besar mengikuti jejak langkah As-Sisi: memberangus demokrasi, memenjarakan lawan politik dan membungkam suara rakyat dengan kekerasan. Apakah karena itu Jokowi menggelar karpet merah untuk Sang Penjagal?

Saya dan kita semua tentu saja berharap bukan itu. Semoga hanya karena tafsir  kudeta Jokowi  saja yang membuatnya menghormati As-Sisi, meski itu tak lebih baik.

Erwyn Kurniawan