Ketika Aku Terlambat

Ilustrasi. [foto: rumaysho.com]

Abu Hurairoh adalah seorang sahabat Rasulullah. Dia baru berislam belakangan, tapi begitu menerima Islam dia tinggalkan semuanya dari Yaman pergi menuju Madinah. Cuma satu keinginannya, belajar Islam langsung dari Rasulullah.

Abu Hurairoh dikenal sebagai orang yang banyak menghafal hadits setelah Aisyah, wajar kalau Aisyah banyak menghafal hadits, karena dia istrinya.

Namun, Abu Hurairoh hanya 3 tahun bersama Rasulullah, setelah itu Rasulullah wafat, tapi kenapa Abu Hurairoh ini bisa banyak meriwayatkan hadits sementara ia baru berislam belakangan dan hanya 3 tahun bersama Rasulullah.

Karena Abu Hurairoh semangat belajar Islam. Ia selalu mengikuti kemana Rasulullah pergi, setiap hari. Bahkan saat sedang mengunjungi istri-istrinya. Dan Abu Hurairoh tidak punya pekerjaan apa-apa, berbeda dengan sahabat Rasulullah yang lain yang harus berniaga, baginya hari itu ada makanan sekali saja sudah cukup buat dirinya. Dia tinggal bersama fakir dan musafir di belakang masjid Nabawi, yang buat dia hanya untuk tidur saja.

Semua pemikiran, nasihatnya selalu diutamakan oleh seluruh sahabat Rasulullah terutama oleh para Khulafaur Rasyidin.

Kisah Abu Hurairoh dapat dijadikan contoh, bahwa ketika kita terlambat mengetahui keindahan Islam, maka bukan berarti kita tak bisa mengejar saudara-saudara kita yang sudah lebih paham dalam beragama.

Tak masalah kau baru tobat sekarang, yang penting bagaimana kau menikmati pertobatan itu hingga menjadi orang-orang yang terbaik. Bahkan, bukan tidak mungkin bisa lebih baik daripada yang lebih dahulu mengenal keindahan Islam.

Sahabatku, terlambat itu adalah ketika malaikat maut sudah datang lalu nafasmu terenggut hingga ke tenggorokan. Jika kau masih sempat membaca tulisan ini, kau belum terlambat. Belum terlambat untuk memakai jilbab, belum terlambat untuk menjadi orang shaleh, dan belum terlambat untuk menjadi yang terbaik.

Nurul Septiani