SPI Membahas Ghazwul Fikri dan The Worldview of Islam di Al-Azhar

Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Fatahillah mengadakan kelas perdana perkuliahannya untuk angkatan ketiga. Kali ini, SPI bekerja sama dengan YISC (Youth Islamic Study Club) Al-Azhar untuk menggagas tema “Class for Study Islam and Liberalism”.

Kuliah perdana dibuka dengan materi pertama “Ghazwul Fikri” dan dilanjutkan dengan materi kedua “The Worldview of Islam”, keduanya disampaikan oleh Akmal Sjafril, M.Pdi, pendiri SPI yang namanya menjadi terkenal di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia bahkan Asia Tenggara lewat bukunya, Islam Liberal 101 dan Buya Hamka: Antara Kelurusan Aqidah dan Pluralisme. Buku Islam Liberal 101 bahkan sudah mencapai cetakannya yang ketujuh, mengalahkan buku-buku tentang pemikiran liberal yang nampaknya kurang diminati di kalangan masyarakat luas. Kuliah pertama ini dimoderatori oleh Andri Okta yang juga merupakan aktivis senior di YISC Al-Azhar.

“Pertama kali, perang pemikiran telah dikumandangkan oleh Iblis terlihat jelas dalam Surat Al-Hijr ayat 39, di mana Iblis berkata, ‘….aku kan menjadikan mereka memandang baik perbuatan maksiat di muka bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semua.’ Oleh karena itu, perang pemikiran sejatinya adalah perkara yang sudah sejak awal menjadi perhatian besar umat Muslim,” papar Akmal kepada para peserta SPI.

Selain itu, Akmal juga menekankan bahwa ghazwul fikri harus disikapi sebagai perang yang sesungguhnya, bukan hanya gebrak-gebruk emosional yang responsif di media sosial yang sesungguhnya tidak akan bermanfaat untuk jangka panjang “Dalam jihad, kalau menang terhormat, tapi kalah pun ada peluang syahid. Tetapi dalam perang pemikiran, tidak ada pilihan selain menang! Yang kalah bukannya syahid, melainkan jadi pecundang, bahkan robot atau boneka yang dikendalikan musuh,” tegas Akmal, ayah satu anak ini.

Yang menjadi senjata dan sasaran tembak dalam perang pemikiran adalah worldview. “Worldview adalah ‘isi kepala’ manusia yang menjadi asas atas segala perbuatan yang dilakukannya,” ujar Akmal. Akmal menjelaskan bahwa worldview ini harus berlandaskan Tauhid, karena Tauhid adalah pondasi utama dalam Islam. Materi kedua yang disampaikan ini lebih banyak mengutip pemikiran-pemikiran cendekiawan Islam kelas dunia seperti Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Sayyid Quthb, Adnin Armas, Hamid Fahmy Zarkasyi, dan juga Adian Husaini.

Materi kuliah kedua ini juga membahas perbandingan antara worldview Islam dengan worldview Barat. Salah satunya, bahwa Islam memiliki pandangan yang lebih komprehensif, bersifat final, dan berasal dari keyakinan. Berbeda dengan cara berpikir Barat yang sangat spekulatif dihiasi dengan keragu-raguan, serta tidak final dan selalu dapat diubah, dan ini menandakan bahwa worldview Barat sendiri tidak kokoh pondasinya.

Mayoritas peserta SPI kali ini adalah dari kalangan mahasiswa dari berbagai kampus, seperti UI, LIPIA, UNAS, UIN Syahid, UNJ, IPB, dan juga ada yang berasal dari Univ. Ibn Khaldun (UIKA) Bogor. Selain dari kalangan mahasiswa, tidak sedikit juga yang berasal dari kalangan pekerja dan ibu rumah tangga. Tak kalah populernya juga ada pasangan suami-istri yang masih muda dan baru bersama-sama mendaftar SPI kali ini.

“Saya sangat suka mempelajari pemikiran-pemikiran Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan juga ustadz-ustadz dari INSISTS yang juga berguru kepadanya. Mereka membahas Worldview Islam dengan ilmu yang tinggi namun tetap rendah hati. Sayang sekali bukunya Al-Attas masih belum bisa diakses mudah di Indonesia, selain itu juga mayoritas buku-bukunya yang masih berbahasa Inggris, Parsi, dan Arab. Alhamdulillah semua kesusahan itu dimudahkan dengan adanya SPI,” ungkap Muawwin B. Zamzamy, peserta SPI yang berkuliah di UIKA yang fasih berbahasa Arab dan juga aktif di beberapa organisasi-organisasi dakwah kampus.

Perkuliahan SPI Jakarta akan berlangsung dwipekanan selama tiga bulan ke depan pada hari Sabtu pukul 13.00-17.30 WIB. Salah satu tujuan diadakannya sekolah ini adalah mencetak para da’i penulis yang mampu melawan serangan-serangan pemikiran dengan ilmu yang mumpuni.

Azhari Setiawan