Pelukan Ibu Pertiwi

ilustrasi. [foto: deviantart.com]

Ketika anak-anak bangsa
Perjuangannya sudah melupakan rumahnya

Ketika anak-anak bangsa
Hanya berjuang untuk kelompoknya saja

Ketika anak-anak bangsa
Saling cakar hanya untuk duduk disinggasana

Ketika anak-anak bangsa
Hanya menjadi badut-badut politik
Bertonil bak pemain sinetron
Mengelabui jutaan pasang mata penonton

Ketika anak-anak bangsa
Saling pukul, tikam sampai baku bunuh untuk tahta, harta dan wanita

Ketika anak-anak bangsa
Semakin banyak jiwanya melayang karena narkoba

Ketika anak-anak bangsa
Semakin tercabut dan hilang jati diri

Ketika anak-anak bangsa
Menjadi yatim piatu
Karena hari ini tak ada dan entah kemana
Wahai bapak bangsa dan ibu bangsa

Ketika anak-anak bangsa
Semakin menumpuk rasa galau
Berada ditebing keputusasaan

Ketika anak-anak #bangsa
Bertanya-tanya
Masih adakah harapan baru
Masih adakah pintu kembali
Masih tersediakah jalan pulang
Masih bisakah obati luka

Kini aku bersimpuh
Dalam sajadah tanah pertiwi
Aku pulang
Aku ingin mendapatkan pelukan hangat ibu pertiwi
Agar geloraku untuk Indonesia raya
Tetap berkobar

Ibu pertiwi
Anak-anak bangsa ingin kembali ke rumah
Berikan tanganmu untuk hapus luka
Berikan pelukanmu untuk hangatkan semangat kami

Ketika anak-anak bangsa terluka
Pulanglah ke rumah
Jangan bertarung di televisi atau surat kabar

Pulanglah . . .
Ibu pertiwi menantimu
Ibu pertiwi tak sudi melihat
Sesama anak bangsa saling menumpahkan darah

(31 Agustus 2015, 02:44. Dipenghujung perayaan HUT RI ke 70. Apapun jabatan kita hari ini, kita semua adalah anak bangsa. #KramatJati, pena diri untuk negeri)