The Power of Nggrundel

Ilustrasi. [credit: 123rf.com]

Seorang lelaki dewasa, di dalam mobilnya agak ‘nggerundel’ menunggu anak-anaknya yang dianggapnya kurang cekatan. Kebetulan anak-anaknya sedang di dalam rumah, persiapan mau pergi.

“Kok ya gak dari tadi siap-siapnya? Ini sudah lama di dalam, kok belum kelar juga?”

Namun, begitu anak-anaknya datang dengan wajah sumringah, lelaki itu bertanya, “Jadi kita mau jalan-jalan kemana nih?”

Seorang perempuan di sebelahnya, melihatnya takjub dan berpikir: Apakah ibu-ibu juga akan bertindak sama? Atau justru begitu anaknya datang langsung diberondong pertanyaan (tepatnya omelan) yang sudah dirasakan sejak sebelumnya? *merepet, istilahnya*

Berkaca pada lelaki tadi, begitulah barangkali, cara menahan amarah, tanpa membuat hati sendiri nyesek tidak menemukan saluran katarsis, tapi juga tidak membuat hati orang lain terluka. Nggerundel, ngedumel, tapi cukup sebentar dan ditujukan untuk diri sendiri.

Lalu perempuan itu teringat masa kecilnya. Tentang neneknya, yang begitu mencintai sang kakek. Kadang, kakek meminta ini dan itu, yang membuat nenek menyiapkannya sambil nggerundel di belakang. Mungkin karena nenek merasa capek. Tapi, mata awas cucu kecil itu jelas menangkap, saat nenek menghantarkan apa yang diminta kakek, wajah nenek begitu cerah, dan dengan sopan dan penuh senyum berkata, “Punika pak, monggo”.

Jadi kesimpulannya apa? Kadang kita memerlukan katarsis ‘nggerundel’, justru untuk tetap merawat cinta pada sesama. Bukan mengomel di depannya yang bisa menimbulkan sakit hati bahkan perang kata, bukan pula menggunjing di belakangnya yang menyebabkan dosa. Tapi sekadar nggerundel, berbicara oleh dan untuk diri sendiri. Demi kestabilan emosi.

Muktia Farid
muktiberbagi.wordpress.com