Untuk yang Sedang Merasa di Atap Dunia

“Lu kalau punya mobil nanti, jangan kaya gitu ya”. Demikian kira-kira celutukan rombongan lelaki di belakang saya kepada temannya. Biasa, rombongan pegawai usai makan siang di kantin seberang kantor, selalu kesulitan menyeberang karena banyaknya kendaraan yang melintas. Yang di atas mobil seolah tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada para penyeberang, dari atas mobil yang sejuk kesulitan para pejalan kaki tak diperhatikan, meski di tengah cuaca panas sekalipun, bahasa halusnya yang di atas mobil tak punya empati.

Ini memang problem klasik, ketika sudah di atas lupa yang di bawah. Apa saja yang di atas memang enak, melihat pemandangan misalnya, jauh lebih enak dari atas daripada dari bawah. Apalagi ayo…, melihat masalah selalu lebih komplit kalau dari atas, istilah kerennya helicopter view. Banyaknya bangunan-bangunan tinggi yang menjulang ke atas selalu saja membuat sebuah kota menjadi indah, sejak zaman dulu kala Firaun kalau tak salah sudah menyuruh arsiteknya bernama Haman untuk membuat bangunan tinggi menjulang ke langit. Sepertinya ingin berada di atas untuk menantang-nantang Tuhan, bahkan saking kebablasan akhirnya menyatakan diri sebagai Tuhan.

Jadi berada di atas itu memang enak, namun tak jarang akan membuat orang lupa diri. Coba saja simak pernyataan dosen sebuah universitas ternama di negeri ini bahwa ibadah haji dan umroh adalah sebuah pemborosan, karena uangnya bisa dipakai buat pembangunan ini dan pembangunan itu, demikian sang dosen beralasan. Saya hanya berimijinasi apakah beliau ini seolah-seolah sedang merasa di atas? Seperti Firaun yang duduk di singgasana lalu dengan beraninya berhadap-hadapan dengan Tuhan. Entahlah, bahkan hemat saya anak sekolah dasarpun tahu bahwa perintah haji dan umroh itu datangnya dari Tuhan, Allah Yang Maha Kuasa, lalu kenapa harus menantang-nantang? Dan yang perlu diingat biaya haji dan umroh itu atas beban pribadi, mengapa pula keinginan personal harus dikonversikan menjadi sumbangan pembangunan.

Dalam sebuah berita on-line saya juga pernah baca bahwa seorang tokoh liberal mengatakan bahwa 90% Qur’an itu memakai pendapat pengarang. Perlu diketahui bahwa tokoh ini juga sedang di atas, paling tidak merasa di atas angin karena banyak diliput media. Kebenaran itu menurut dirinya sendiri, dan kalau kebenaran itu dari pihak lain dia akan berkilah bahwa kebenaran itu relatif. Qur’an yang kita yakini sebagai kalam Allah, dikatakan pemahamannya memakai pendapat pengarang. Jangan lupa bro, jika yang dimaksud pendapat pengarang itu ahli tafsir ya sudah on the track. Kepada siapa lagi kita belajar kalau bukan kepada ahlinya. Kalimat tokoh liberal ini multi tafsir, yang jelas kalau saya tidak salah tangkap dia tidak mengatakan Qur’an itu 90% karya pengarang.

Kita kembali ke sebuah universitas ternama di ibu kota, seorang dosennya dan secara terpisah seorang konsultan politik telah mem-bully habis-habisan ustad Yusuf Mansur, meskipun sang ustad sesungguhnya berbicara di wilayah apa yang dia kuasai. Dua orang ini, dosen dan konsultan politik seolah-olah mempunyai ilmu di atas pak ustad. Lagi-lagi ini persoalan seolah-olah di atas, lalu merasa berhak men-judge seseorang. Yusuf Mansur mengatakan mari kita berdoa, agar rupiah menguat. Eh dilalahnya mereka alergi dengan kata-kata doa, lalu mengatakan membahas kurs ya dengan teori-teori yang ada, karena masalah ekonomi bukan kapasitas Yusuf Mansur. Alamak kualatnya mereka, masalah kurs memang masalah ekonomi, dan saya kok yakin sang ustad secara ekonomi jauh lebih kaya dari mereka. Lalu berbicara masalah doa, jelas itu wilayah ustad. Kurang pas juga ustad membahasnya dari sisi teori ekonomi, karena bukan bidang keahliannya. Dan coba dipikir-pikir kembali, bukankah doa itu pembuka untuk setiap aktivitas? Setelah itu baru usaha, jadi doa dulu baru usaha dan usaha ini silahkan dilakukan oleh para ahlinya atau pihak yang berwenang. Usaha dan doa adalah satu kesatuan, kenapa ustad yang di bully? Aneh, orang-orang ini telah mengalami dis-orientasi sehingga meninggalkan aspek relijius dalam gerak langkah kehidupannya.

Jadi marilah kita pahami bersama, gempuran-gempuran pemikiran ini akan semakin banyak di masa datang. Disamping semakin difasilitasi oleh media sebagai panggung untuk mereka, ada satu faktor lagi yang perlu diingat bahwa ini memang sudah waktunya, dunia ibarat perahu yang tepiannya makin mendekat. Dan tidak perlu juga heran bahwa kalau dulu nenek moyang kita meng-islamkan nusantara, sekarang islam yang akan dinusantarakan. Ehem, nantinya akan dibalut dengan fikih kebhinekaan, maka selesai sudah. Tinggal berdoa, ya Allah bimbinglah daku untuk mengetahui bahwa yang benar itu tetaplah benar dan yang salah itu tetaplah salah. Ya Allah tunjukilah aku jalan yang lurus, jalan yang engkau ridhoi….

Androecia Darwis