Nada Sumbang Terhadap Ibadah Haji, Antara Mereka dan Kita

Belakangan ini kita membaca opini dari seorang dosen yang menanggap bahwa ibadah haji dan umroh adalah pemborosan. Ada baiknya kewajiban ibadah haji ditinjau ulang karena uangnya bisa digunakan untuk membantu mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Sepertinya ini sejalan dengan opini miring sebelumnya dari seorang santri yang berpendapat bahwa haji dan umroh adalah konspirasi Arab Saudi untuk mengeruk devisa. Lebih baik ziarah di dalam negeri saja, tak perlu berumroh ke Arab Saudi.

Bagi seorang yang lurus akidahnya, faham tentang rukun Islam, tentu menganggap opini kedua orang pintar ini seperti mendengar ocehan orang gila yang sedang mencari sensasi. Apakah karena ibadah solat tidak memberikan nilai ekonomi maka kita berhenti sholat? Apakah kalau sedekahnya tidak melancarkan rezeki maka kita berhenti bersedekah? Atau kalau puasanya tidak membuat kita lebih langsing dan hemat maka kita berhenti berpuasa?

Tapi tunggu….

Selain membela ajaran Islam dari pembelokan orang-orang yang beropini miring, mari kita evaluasi juga diri kita sendiri. Jangan-jangan pemikiran mereka itu menggambarkan realitas pemikiran kita juga yang tidak kita sadari.
Jangan-jangan kita juga menunda mengisi tabungan haji karena merasa dolar sedang terlalu mahal untuk dibeli, masih ingin beli ini-itu dulu sehingga tabungan haji dipinggirkan dulu, masih terbayang punya ini dan itu sebelum mengorbankan uang untuk berangkat haji…. Jangan-jangan itu sebabnya tabungan haji kita tak juga penuh terisi.

Padahal ibadah haji itu terkait erat dengan ibadah kurban, bahkan waktunya pun bersamaan. Dalam ibadah kurban, bukan berapa banyak uang yang kita miliki untuk dikorbankan, karena Allah tak meminta harta dari kita. Yang Allah ingin lihat adalah seberapa besar cinta kita pada-Nya dibandingkan dengan cinta kita pada dunia.

Itulah kenapa ujiannya bagi Ibrahim AS adalah menyembelih anaknya, tapi Allah ganti dengan domba. Itulah kenapa dagingnya pun boleh kita makan sendiri setelah sebagian besarnya kita bagikan kepada yang lain. Karena Allah tidak meminta harta kita, tapi meminta bukti cinta kita pada-Nya.

Abdullah