Karena Kita yang Lemah

Ilustrasi.

Di era ini, mereka yang indah,
mereka yang hebat,
mereka yang mengundang jempol,
mereka yang kerap menentukan arah perbincangan
atau mereka yang punya banyak cerita di dunia maya,
boleh jadi bukan siapa-siapa di dunia nyata.

Di era ini,
pribadi seseorang bukan cuma bisa terbelah,
bahkan bisa terbelah-belah sampai beberapa.

Kita hanya perlu menatapnya,
mendengarnya, mencermatinya,
mencatatnya, mengendusinya,
meraba-raba gagasannya,
mengecap dan merasakan pikirannya,
dan atau menghubung-hubungkan puzzle yang ada.

Saya masih yakin cahaya, aroma,
rasa dan getaran yang sesungguhnya
masih bisa diinderai dengan sangat baik.
Asal kita tak terlalu lemah.

Tak perlu risau karena sebab dunia,
tak perlu terlalu sedih karena bualan, sampah, dan omong kosong,
tak perlu gundah karena kegenitan,
tak perlu galau karena pencitraan,
tak perlu merasa bodoh karena ketergesaan,
tak perlu merasa miskin karena kerakusan,
dan tak perlu merasa kuno karena kebodohan.

Seperti nasehat untuk anak-anakku,
“Teruslah berpikir, lazimkan dzikir,
dan kembangkan sikap respek”.

A’udzu bi kalimatillahi at tammaat min syari maa kholaq.

Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan yang Dia ciptakan.

Laa haula wa laa quwwata illa
billahi..

Eko Novianto