Bukuku Pusakaku

Sudah dua bulan ini kami agak akrab dengan jual beli online, khususnya buku. Relatif aman dan sangat membantu untuk mencari buku langka dan berkualitas. Lain dengan jual beli barang elektronik yang kadang penuh resiko.

Bagi aktor, setiap film ada cerita behind the scene. Bagi atlet, setiap kompetisi dan tropi sering menyimpan drama tersembunyi. Begitu pula, setiap buku kadang ada ceritanya sendiri. Sudah akhir bulan, lagi pusing dikejar angsuran, tapi tetep saja nekad beli buku. Itu hanya contoh kenangan atas sebuah buku.

Belajar kepada Buku

Dalam Fiqhud Da’wah ada konsep “Tilmiidzu Imaam Laa Tilmiidzu Kitaab”. Kita semestinya jadi santrinya guru, bukan santrinya buku. Belajar kepada buku/kitab itu adalah derajat paling rendah dalam hal “Talaqqi ‘Anil ‘Ulama”.

Hemat kami, dalam kondisi tertentu ya ndak apa – apa. Karena jaman sekarang nyari ulama yang kompeten sekaliber Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar Al Asqolani dll juga sulit. Dengan wasilah buku, kita tetap bisa menikmati karya Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Syaikh Yusuf Qardhawi dll.

Yang penting, jangan mencukupkan diri hanya belajar dari buku. Karena belajar memang harus ada yang membimbing. Demikian juga dengan belajar secara otodidak. Pernah Imam Abu Hanifah dilapori sekelompok orang yang berdiskusi tanpa ada yang membimbing (ulama, ustadz dll), lalu beliau berkata “Mereka akan tersesat”.

Sekedar belajar dari buku juga bisa sangat beresiko seperti : gagal paham, proses penalaran yang salah, sumber referensi yang tidak jelas dll. Sedangkan belajar kepada ulama, kita bisa melestrarikan tradisi “ittishollus sanad”.

Mencintai Buku

Hobi dan kecenderungan terlihat perilaku keseharian. Sebagaimana mencintai qur’an akan terlihat dari tingkatan interaksinya, mencintai buku juga menimbulkan interaksi yang bertingkat. Mulai dari membeli, membaca, menelaah, membuat resensi sampai akhirnya menulis buku sendiri.

Buku adalah perbendahaaran yang besar. Darinya kita bisa mendapatkan banyak keutamaan. Belajarlah untuk menghafal sebagian isinyanya, agar ilmu tidak hanya berada di buku tapi benar – benar ada dikepala. Bisa jadi laptop tertinggal, flashdisk kena virus, proyektor rusak. Namun kita tetap bisa naik mimbar dan podium dengan gagah.

Berdoalah agar kita tidak menjadi “keledai yang membawa tumpukan kitab”. Bebannya berat tapi tidak mendapatkan manfaat darinya. Karena itu, tunaikanlah hak atas ilmu yang terkandung didalamnya, yaitu diamalkan dan disebarkan.

Pembelajar Sejati

Awal membaca sebuah buku dan mengkaji kitab, kita akan jadi “tawanan”. Dimana buku itu akan menguasai semua ucapan dan pikiran kita. Seolah didunia ini hanya ada satu tafsiran, standar kebenaran dan metode analisa. Semua terlihat serba hitam putih.

Membaca beberapa puluh buku, membuat kita menemukan kelapangan atas beberapa pendapat. Kita mulai merasa menjadi bagian kecil atas lautan ilmu pengetahuan kolektif yang dimiliki oleh manusia. Dunia mulai terlihat lebih berwarna, dengan banyak ragam dan corak pemikiran.

Membaca beberapa ratus buku memberikan kita kompas kehidupan. Bisa membedakan mana yang masuk wilayah “kelapangan” dan mana yang masuk wilayah “penyimpangan”. Tidak lagi terpengaruh dengan provokasi, ketokohan maupun sentimen ‘ashobiah.

Memilih Buku

Dalam Islam ada tiga ilmu yang menjadi sendi dasar, yaitu ilmu al qur’an, hadits dan fikih. Mulailah dari ketiga ilmu pokok itu. Jangan sampai kita belajar ilmu kalam yang njelimet, tapi tidak tahu tentang tata cara berwudhu. Itulah kritikan Imam Syafi’i kepada Al Muzani yang akhirnya berbuah kesadaran.

Lanjutkan dengan buku yang sealiran, baru buku yang berbeda mazhab pemikiran. Kita akan mampu membuat perbandingan pendapat. Imam Syafi’i melanjutkan belajarnya kepada “madrasah ahli ra’yu” setelah menyelesaikan “madrasah ahli hadits”.

Selanjutnya baca pula buku yang berbeda keyakinan. Belajar aliran yang menyimpang, aliran sempalan, belajar aqidah agama lain dll. Bukan untuk larut dan melebur, tapi sebaliknya untuk menjaga orisinalitas dan memberi peringatan. Imam Syafi’i sangat membenci ilmu kalam, namun tidak menghalanginya untuk mempelajarinya. Hanya digunakan untuk berdebat dengan ahli ilmu kalam, sampai lawan debatnya merasa ingin menimba ilmu kalam dari Imam Syafi’i.

Benci kepada yahudi tidak boleh menghalangi kita untuk mempelajari yahudi. Karena rasulullah saw pun sampai memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mempelajari kitaabal yahuud. Benci kepada komunis tidak boleh menghalangi kita untuk mempelajarinya. Dan seterusnya.

Cerita Unik

Umumnya seorang lelaki menikahi perempuan karena faktor agama, nasab, kecantikan taupun harta. Namun Ishaq bin Rahawaih menikah di Moro dengan seorang perempuan janda dari laki – laki yang mempunyai kitab – kitab karya Imam Syafi’i.

Dia menikahi perempuan tersebut hanya karena ingin memperoleh kitab – kitab karya Imam Syafi’i yang dimiliki oleh almarhum suaminya. Ishaq bin Rahawaih akhirnya menulis kitab Al Jami’ Al Kabir berdasarkan gaya kitab karya Imam Syafi’i. Dia juga menulis kitab Al Jami’ Ash Shaghir berdasarkan gaya kitab Al Jami’ Ash Shaghir karya Sufyan Ats Tsauri.

Ada yang tertarik untuk mengikuti jejaknya?

Eko Jun