Dolar dan Nasib 125 Juta Tenaga Kerja Indonesia

Baru saja kita sama-sama melewati dan merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke 70 dengan berbagai lomba dan sukacita . Namun pada kemerdekaan kali ini kita dihadapkan pada kenyataan yang begitu perih nan pilu, rupiah tak mampu merdeka dari dolar.  Ya, sudah lebih dari 3 bulan terakhir ini, Dolar pelan namun pasti melumpuhkan dan mebuat keok rupiah. inilah posisi rupiah yang paling lemah dalam 17 tahun terakhir. Dan kondisi ini menurut ahli ekonomi masih akan terus berlanjut kedepan.

Sampai dengan Sabtu 15 Agustus lalu rupiah di tutup dengan angka 13.630. Bahkan sampai dengan saya menulis ini rupiah berada di level 13.930. Bagi Anda yang berkeja dengan gaji dolar ataupun Anda yang menyimpan dolar, bisa jadi saat ini adalah moment yang tepat bagi  Anda untuk merayakan kemenangan, dengan berinvestasi yang sebanyak-banyaknya. Dan bagi  Anda yang bergaji rupiah, ada baiknya Anda mengurungkan liburan Anda ke Eropa. Hehe..

Memang kondisi ini tidak hanya di alami oleh Indonesia saja, di beberapa negara Asia ( Malaysia, Singapura dan Korea ) pun tidak luput dari serangan dolar. Ada beragam analisa dari para ahli ekonomi negeri ini yang menguraikan kenapa rupiah semakin melemah dan dolar semakin menguat. Mulai dari perekonomian Amerika yang semakin membaik semenjak 2 tahun terakhir, dan kebijakan fiscal yang diambil oleh Bank Sentral Amerika ( the fed ) sehingga merugikan mata uang global. Sampai pada lemahnya kinerja Pemerintahan di sektor ekonomi yang ditandai dengan serapan anggaran belanja Negara dan pembangunan yang melambat. Sampai akhirnya di lakukan reshufle kabinet di bidang ekonomi pun tetap juga tidak juga membuat stabil pasar.

Namun apapun kondisinya tentunya tulisan kali ini kita tidak akan membahas mengenai faktor-faktor yang menyebabkan melemahnya rupiah terhadap dolar. Biarkan para ahli ekonomi dan pemimpin negeri ini melakukan kajian untuk mencari jalan keluarnya. Tulisan kali ini, kita akan  membahas mengenai dampak menguatnya dolar terhadap nasib tenaga kerja Indonesia dan apa yang perlu kita lakukan untuk menghadapi dari masa-masa sulit ini.

Saat ini dengan greenback ( sebutan untuk dolar Amerika ) yang semakin melejit tentunya tidak bisa dianggap enteng. Faktanya di Indonesia saat ini berdasarkan data dari Kementrian Keuangan RI dalam laporan APBNP Final 2015 bahwa sektor industri non migas adalah sektor terbesar penyumbang pendapatan Negara sebesar 629,8 T atau setara dengan 49% dari total keseluruhan Pendapatan Negara dari sektor pajak. Di sektor non migas, penyumbang terbesar adalah industri manufaktur, dan parahnya hampir 60% industri manufaktur di Indonesia menggunakan bahan baku impor. Alhasil kondisi ini tentunya akan memaksa industri untuk menekan production cost dan menaikan harga jual. Sudah bisa di tebak ujung-ujungnya akan membuat kondisi dilematis bagi dunia industri.

Langkah yang paling mudah dilakukan bagi dunia industri untuk menekan biaya produksi adalah efisiensi, dan efisiensi yang bisa dilakukan adalah dengan menekan faktor terbesar dari item operational expenditure ( Opex ) di anggaran perusahaan, seperti energi ( listrik, bahan bakar minyak/gas, air ), yang kedua adalah biaya bahan baku ( raw material ) yaitu dengan cara mengurangi pembelian bahan baku, sementara bahan baku yang ada masih menumpuk karena rendahnya order dan tentunya ini semakin membuat sulit, dan yang ketiga adalah biaya tenaga kerja. Untuk biaya tenaga kerja yang dapat dilakukan yang pertama kali adalah dengan menekan adanya additional cost seperti lembur dan biaya-biaya lainnya yang tidak mendukung produktifitas.

Langkah lainnya yang berhubungan dengan tenaga kerja adalah peningkatan produktifitas dan utilisasi. Diharapkan tenaga kerja mampu mengerjakan end to end process dan untuk itu kompetensi yang dibutuhkan adalah multitasking sehingga dapat mendukung efisiensi, serta mampu menggunakan teknologi mutakhir, meskipun investasi teknologi juga bukan barang yang murah. Sehingga pada akirnya apabila dolar makin terus bergerak naik, industri akan melakukan langkah terakhir yaitu pengurangan tenaga kerja. Dan ini kita harapkan tidak terjadi.

Baru-baru ini juga  kita saksikan para pedagang daging berdemo karena harga daging melonjak drastis dikarenakan daging sapi yang langka. Kemudian di susul pedagang ayam pun juga  berdemo karena harga ayam juga tidak mau kalah dengan harga daging. Dan ternyata bukan hanya daging dan ayam yang naik, telur, gula pasir, dan cabai pun ikut naik. Kalau pun tidak harga masih fluktuatif di pasar. Tentunya ini menjadi tambahan beban bagi pekerja golongan UMK. Sudah daya beli pas-pasan ditambah dengan harga kebutuhan yang naik semakin lengkaplah penderitaan yang ada.

Saat ini berdasarkan data dari BPS jumlah angkatan kerja di Indonesia diperkirakan ada 125,3 juta. Dari jumlah angkatan kerja ini sebagian besar di dominasi oleh lulusan SD ke bawah sebanyak 52 juta atau sebesar 47,27%, kemudian SMP sebanyak 20,46 juta atau 18,6 %, SLTA dan sederajat sebanyak 27,82 juta atau 25,29%, Diploma sebanyak 2,9 juta atau 2,63%, dan lulusan Universitas sebanyak 7,57 juta atau 6,88%. Di perusahaan terutama manufaktur secara demografi berdasarkan pendidikan pun mayoritas di dominasi oleh SLTA ke bawah dengan level operator.

Tentunya dengan melihat fakta-fakta diatas, bahwa yang akan terkena dampak terbesar dari kondisi naiknya dolar dan himpitan harga kebutuhan pokok yang melambung serta badai yang melanda dunia industri adalah tenaga operator. Meskipun dalam situasi seperti ini siapapun itu  mulai dari level operator sampai pengusaha pastinya tidak aman.

Untuk menghadapi kondisi buruk karena di beberpa Bank telah melakukan stress test ( sebuah test untuk menguji kesiapan Bank menghadapi kurs dolar di angka 15.000 sampai 16.000 ), ada baiknya kita sebagai tenaga kerja dan pelaku profesional untuk lebih fokus dan meningkatkan skill serta menunjukan produktifitas kita. Tidak perlu menyalahkan kondisi lantas menggalang masa untuk berdemo. Karena tentunya itu tidak akan menyelesaikan permasalahan. 

Langkah cerdas lain yang bisa ditempuh adalah dengan melengkapi diri dengan berbagai kemampuan life skill seperti memasak, wirausaha, atau pun berbisnis online. Kebetulan saat ini media bisnis online sedang booming-boomingnya. Pada tulisan yang lalu (Strategi Marketing di Era Digital Milenium) hal ini pernah kita bahas. Karena justru ekonomi kreatif lah yang mampu bertahan dari kondisi badai ekonomi, karena tidak bergantung pada ongkos produksi yang mahal.

Itulah cerita dolar dan nasib 125 juta tenaga kerja Indonesia. Sambil kita terus bekerja dan berdoa agar kondisi ekonomi negeri ini semakin baik. Dan tentunya kita tunggu aksi nyata pemimpin negeri ini mampukah mereka membawa kita keluar dari badai ini?

Adi Sumarno
Group Head Human Capital Trisula Corp