Cerdas Mencinta

“Abi, boleh aku suka pada teman laki-lakiku?”
Itu pertanyaan dari salah satu gendukku sekian tahun yang lalu. Wajar. Ketika itu mereka masih di awal-awal SMP atau di akhir SD.

Boleh adalah jawabanku waktu itu. Kalau kamu suka seseorang, kamu tetap boleh menemukan hal yang tidak kamu suka. Dan kalau kamu tidak suka seseorang, kamu harus bekerja keras menemukan hal yang bagus darinya. Kurang lebih, itu tambahanku waktu itu.

Sekarang, gadis-gadisku itu sudah lebih pintar mengelola rasa.

Justru bapaknya yang agak bermasalah pada soal ini. Juga teman-teman bapaknya.

Bapaknya dan teman-temannya kerap tampak tak pintar, tampak agak bodoh, tak cerdas, agak bebal, genit, dan agak tak adil.

Sebagian bilang presiden pertama hebat bagai tak punya cela. Sebagian yang lain bilang itu untuk presiden kedua, ketiga, keempat, sampai yang kesekarang. Sebagian yang lain tak cerdas mencintai kelompok, partai, golongan, dan gerombolannya. Dan ketidakcerdasan dalam mencinta, hampir pasti diikuti oleh ketidakcerdasan dalam membenci.

Semoga kalian piawai mengelola rasa, nduk. Doakan kami, nak.

Eko Novianto

image
Ilustrasi.