Romantislah, Walau Sejenak

Bagaimana romantisme dalam hubungan suami isteri? Berikut tanya jawab antara saya dgn penanya fiktif. Semoga memberikan inspirasi bagi kita semua.

1. Harapan istri atas suami yang romantis seringnya bertepuk sebelah tangan. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Jawaban : Hal tersebut disebabkan  pengertian romantis bagi kebanyakan perempuan dan lelaki yang berbeda. Romantis bagi kebanyakan perempuan adalah hubungan keintiman yang harus saling memperhatikan satu sama lain dan perlu diungkapkan secara vulgar bahwa mereka saling mencintai. Sebaliknya bagi kebanyakan lelaki, romantis lebih kepada hubungan rasional yang saling mempercayai satu sama lain dan tidak perlu diungkapkan secara vulgar bahwa mereka saling mencintai. Perbedaan ini disebabkan otak perempuan dan lelaki memang didisain berbeda oleh penciptanya, Allah SWT.

2. Benarkah, “Kehidupan rumah tangga membutuhkan sebuah keromantisan” Ataukah sebenarnya hanya “Sebuah keinginan sepihak (istri) saja”? Jawaban : Sebuah rumah tangga pasti membutuhkan keromantisan. Suami yang baik akan berusaha memenuhi “tuntutan” romantisme versi isteri. Ia akan berupaya memperhatikan isterinya dan mengungkapkan rasa cintanya secara vulgar, sehingga isteri senang walau mungkin si suami merasa tindakan tersebut lebay. Apalagi bagi mereka yang sudah menikah puluhan tahun. Sebaliknya, isteri yang baik juga akan berusaha memenuhi “tuntutan” romantisme versi suami yakni mempercayainya, tidak ikut campur, tidak mencurigainya dan memberi ruang kepada suaminya untuk “sendirian” dalam rangka memecahkan masalahnya. Sebab kebanyakan suami tidak suka dintervensi (melibatkan isteri) dalam urusannya. Sebaliknya kebanyakan isteri justru suka diintervensi (melibatkan suami) dalam urusannya. 

3. Beberapa permasalahan yang muncul dalam rumah tangga bisa jadi disebabkan oleh hal yang sangat sederhana; kita kurang romantis. Bagaimana menurut ustaz?
Jawaban : Ya betul, hal-hal sederhana seperti kurang romantisnya hubungan suami isteri jika dilakukan dalam waktu yang lama tentu akan mengganggu keharmonisan rumah tangga.  Itulah sebabnya romantisme tetap perlu dilakukan sesuai dengan versi masing-masing. Namun yang perlu diingat, jangan sampai perceraian dan perselingkuhan terjadi hanya gara-gara suami atau isteri kita kurang romantis. Alasan tersebut sebenarnya hanya untuk menutupi alasan sebenarnya, yakni tidak mampu mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu. Seperti yang telah dijelaskan di atas, masing-masing pihak harus mengerti bahwa aktualisasi romantisme antara lelaki dan perempuan memang berbeda. 

4. Seberapa penting keromantisan ada dalam hubungan rumah tangga (suami-istri)?
Jawaban : Keromantisan dalam rumah tangga ibarat garam dalam makanan. Garam dalam makanan tidak boleh terlalu banyak atau sedikit karena akan mengganggu rasa makanan dan selera makan. Begitu pun keromantisan rumah tangga, tidak boleh terlalu banyak atau terlalu sedikit karena akan mengganggu “rasa” berumah tangga dan “selera” berumah tangga. Rumah tangga yang terlalu romantis juga tidak baik karena akan mengganggu tugas-tugas kemanusiaan yang lainnya. Abu Bakar ra pernah menyuruh anaknya Abdurrahman bin Abu Bakar ra untuk menceraikan isterinya karena terlalu mencintai dan romantis kepada isterinya, sehingga anaknya menjadi malas mencari nafkah dan berjihad di jalan Allah. Setelah mereka berubah dan tahu kewajibannya masing-masing, barulah Abu Bakar ra setuju mereka bersatu kembali.

5. Jika keromantisan dalam rumah tangga memang perlu, bagaimana suami kemudian harus me-manage dirinya agar mungkin (sedikit) lebih romantis? Perlukah hal ini ‘dilatih’?
Jawaban: Keromantisan perlu dilatih, terutama bagi para suami yang kaku melakukannya. Caranya, mulailah dengan melakukan romantisme yang kecil-kecil dahulu. Misalnya, menyebut isteri dengan panggilan “say” jika selama ini belum pernah melakukan. Menggandeng dan memeluk isterinya. Mengajaknya pergi berduaan ke tempat-tempat yang romantis menurut isteri. Dan seterusnya. Perlu juga bagi suami mengingat tanggal-tanggal istimewa bagi isteri lalu melakukan tindakan romantisme dengan memberikan perhiasan, bunga, makanan, atau apa saja yang menurut isteri itu romantis. Walau mungkin menurut suami itu lebay, berlebihan. Namun bukankah tugas suami adalah membahagiakan isterinya? Dan bukankah kebahagiaan isteri juga merupakan kebahagiaan suami? Rasulullah bersabda: “Sebaik-baiknya kamu adalah mereka yang paling baik kepada isterinya” (HR. Bukhari).

6. Benarkah lelaki (suami) adalah ‘makhluk’ yang paling sulit untuk romantis? Mengapa demikian? Adakah hal yang mempengaruhi/ menyebabkannya?
Jawaban : Sebagaimana yang disebutkan di atas, lelaki dan perempuan memiliki struktur otak yang berbeda sehingga pengertian romantisme menurut lelaki dan perempuan berbeda. Bagi kebanyakan lelaki romantis itu adalah bukti untuk bertanggung jawab. Sebaliknya, bagi perempuan itu tidak cukup. Harus ditambah dengan pernyataan vulgar tentang saling mencintai. Lelaki cenderung memiliki otak yang berpikir global, rasional dan ingin berkuasa. Itulah sebabnya lelaki sering dianggap egois. Padahal itu adalah cara dia untuk berkuasa (survive) dalam kehidupan yang keras. Sebaliknya perempuan cenderung memiliki otak yang berpikir detail, emosional dan ingin intim. Itulah sebabnya kebanyakan perempuan lebih menuntut ungkapan cinta secara vulgar. Contohnya, mana yang lebih suka film romantis, lelaki atau perempuan? Jawabannya adalah perempuan. Karena di film tersebut ada keintiman, emosional dan ungkapan romantisme secara vulgar. Lelaki pada umumnya kurang begitu suka dengan film romantis. Sebaliknya mana yang lebih suka film perang? Jawabannya adalah lelaki. Karena di film perang atau action lelaki merasa lebih berperan (berkuasa), jantan dan logis. Lelaki dan perempuan cenderung memiliki kesukaan yang berbeda karena memang fitrahnya demikian.

7. Bentuk romantisme mungkin amat relatif. Misalnya: bisa jadi suami merasa telah (cukup berusaha) romantis, namun bagi istri tidak. Bagaimana kemudian pasangan mengatasi relativitas ini? Jawaban : masing-masing pihak harus mengerti bahwa mereka diciptakan Allah berbeda. “Tidak sama lelaki dan perempuan” (QS. 3 : 36). Lalu dari saling pengertian ini, masing-masing pihak harus memaklumi bahwa bersikap romantis tidaklah mudah untuk masing-masing pihak mewujudkannya sesuai dengan harapan pasangannya. Isteri jangan menuntut berlebihan. Bahkan berlapang dada jika suami kurang romantis. Mungkin saja suaminya sudah merasa cukup romantis kepada isterinya. Yang perlu ditambahkan disini adalah banyak isteri yang menuntut romantisme dari suami, tapi ia sendiri lupa memberikan romantisme versi suami, yakni mempercayainya dan tidak mengintervensinya. Betapa banyak rumah tangga tidak harmonis karena isteri kurang percaya dan cerewet dengan urusan suami, sehingga suami merasa menikah dengan satpam. Lalu akhirnya ia lebih nyaman di luar rumah. Bahkan di antara para suami kemudian selingkuh karena bertemu dengan wanita yang lebih mengerti tentang romantisme lelaki, yakni mempercayainya dan tidak cerewet dengan urusannya.

8. Apa esensi dari romantisme itu sendiri, yang mungkin bisa dimunculkan dalam diri suami, sehingga lebih bisa diterima istri? Jawaban : untuk para suami, cobalah untuk memahami bahwa isteri butuh perhatian dan senang dipuji oleh suami. Isteri juga butuh ucapan “I love you” secara berulang-ulang dengan berbagai versi yang kreatif dan surprise persis seperti di film-film romantis Hollywood atau Bollywood. Jangan malu untuk melakukan romantisme versi isteri agar isteri bahagia. Bukankah hanya isteri bahagia yang bisa membahagiakan suaminya? Sebab hanya orang yang bahagia yang bisa membahagiakan orang lain. Sebab hanya orang yang mempunyai sesuatu yang bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.

Satria Hadi Lubis