Menanti Racikan Jamu Puan Maharani untuk Kekompakan Kabinet

Menteri Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, membanggakan jamu sebagai tradisi asli Nusantara yang gaungnya terdengar hingga ke mancanegara. Menurut Puan, jamu dan kebiasaan meminumnya menjadi identitas bangsa Indonesia karena hal itu sangat penting di tengah serangan herbal impor dan obat-obatan asing.

Sebagai penggerak kampanye revolusi mental yang dicanangkan presiden, jamu juga diandalkan oleh Puan.

“Jamu ternyata bisa menjadi cikal bakal untuk melakukan revolusi mental seperti yang didengungkan Presiden Jokowi,” ujar Puan melalui pers release beberapa waktu lalu.

Puan pernah memamerkan kekompakkan kabinet dengan ritual meminum jamu bersama.

“Kami keliling ke kementerian untuk silaturahmi dan kampanye minum jamu tiap Jumat,” begitu Puan bercerita tentang kebersamaan akrab antar pembantu presiden. Saat itu prosesi minum jamu bersama antar menteri kabinet kerja dilakukan di Kantor Kementeria Perindustrian, Jumat (1 Januari 2015)

Konflik Kabinet Sebelum Reshufle

Kekompakkan itu nampak meyakinkan masyarakat. Hingga akhirnya kicauan Faisal Basri kepada media massa menyiratkan bahwa minum jamu bersama hanya sekedar seremonial yang tak mencerminkan kondisi sebenarnya.

“Amran sama Jonan sama-sama tidak pernah rapat koordinasi dengan menko perekonomian, satu kali pun tidak pernah. Jadi, memang menterinya sengak-sengak, perlu diganti,” ujar Faisal Basri pertengahan juni lalu kepada media.

“Menko tidak didengar lagi oleh menterinya. Jonan itu di-sms menko. ‘Ey, rapat’. Enggak datang dia. ‘Pak Menteri harus tahu, saya orang sibuk. Kalau mau mengundang saya, seminggu sebelum acara’,” ujarnya lagi.

Faisal Basri meyakinkan bahwa kondisinya memang seperti itu. Sampai-sampai ia menyatakan siap bila disomasi oleh Jonan akibat kata-katanya itu.

Tak hanya Jonan yang diungkap oleh Faisal Basri. Juga Menteir Pertanian, Amran Sulaiman.

“Mereka cenderung mengatakan iya pada apa yang dikatakan Jokowi, padahal mereka seharusnya bisa mengatakan tidak,” ucapnya.

Faisal mencontohkan kebijakan pemberian korting bagi para pengguna jalan tol yang dikelola Jasa Marga. Menurutnya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono seharusnya tidak serta-merta menyetujui usul Jokowi tersebut karena harga saham Jasa Marga bisa turun akibat kebijakan itu.

“Saya tidak mengerti kenapa mental mereka seperti itu, sampai-sampai keilmuwannya dirontokan,” tutur Faisal.

Konflik Kabinet Sesudah Reshufle

Presiden Jokowi telah melakukan reshufle kabinet pada tanggal 12 Agustus kemarin. Rupanya, baru sehari dua hari berjalan, sudah muncul kekisruhan antar kabinet. Bahkan pemicunya pun orang baru di tubuh kabinet kerja itu.

Adalah Rizal Ramli yang baru dilantik menjadi Menteri Koordinator Kemaritiman menggantikan Indroyono Soesilo telah mengeluarkan beberapa pernyataan yang mengusik anggota kabinet lain.

Rizal Ramli memantik perselisihan dengan  Menteri BUMN Rini Soemarno saat mengusulkan kepada Presiden pembatalan pembelian 30 pesawat Airbus A350 oleh PT Garuda Indonesia. Rizal Ramli menilai pembelian ini tidak efektif dan merugikan Garuda.

Rini Soemarno yang bertanggung jawab atas kinerja BUMN tentu saja terusik karena wilayah kerjanya dilanggar oleh menteri koordinator yang harusnya mengurusi masalah kematiriman saja. Rini mempertanyakan dasar Rizal Ramli mengusulkan hal tersebut, karena menurutnya Garuda sedang mengembangkan bisnisnya.

Tak hanya dengan Rini Soemarno, Rizal Ramli pun membuka konfrontasi dengan Menteri ESDM Sudirman Said.

Rizal Ramli mempertanyakan program pembangunan pembangkit listri 35 ribu Mega Watt yang menjadi program unggulan Jokowi-JK. Ia menilai angka itu sulit terwujud. Belum lagi pemerintahan sekarang sedang mengejar sisa target yang belum tercapai di zaman pemerintahan SBY, yaitu 7 ribu MW. Sehingga total target pemerintahan sekarang mencapai 42 ribu MW.

Rizal Ramli meminta agar Menteri ESDM meninjau kembali rencana ini. “Saya akan minta Menteri ESDM dan Dewan Energi Nasional untuk melakukan re-evaluasi ulang terkait itu (pembangkit listrik 35 ribu MW, Red.),” ujarnya.

Pernyataan ini ditentang oleh Menteri BUMN Sudirman Said. Ia malah menyatakan optimismenya. “Jadi sebetulnya secara persiapan kita optimis, cuma tantangannya adalah proyek manajemen yang ada. Kalau kita bicara soal (masalah) tanah mengenai perizinan makanya sekarang kita coba,” ujar Sudirman Said.

Di kesempatan lain, Rizal Ramli pun menyindir Sudirman Said yang tak menghadiri acara serah terima jabatan Menko Kemaritiman.

“Oh, ada yang tidak hadir, sudah izin ya? Lain kali, saya bilang jangan dibiasakan banyak izin,” sindirnya.

Kita percaya, kesatuan melahirkan kekuatan, dan kekuatan melahirkan kemenangan. Sebaliknya, perpecahan melahirkan kelemahan, dan kelemahan melahirkan kehancuran.

Kekompakan kabinet menjadi keharusan agar program-program Jokowi-JK berjalan lancar. Kalau bisa, Puan meracik kembali jamu untuk diminum para menteri kabinet kerja bersama agar mereka senantiasa kompak.

Ghiroh Tsaqofy