Beberapa Gebrakan Rizal Ramli yang Panaskan Suasana Kabinet

Belum ada 3 hari Rizal Ramli dimasukkan ke dalam kabinet sebagai Menteri Koordinator Kemaritiman menggantikan Indroyono Seosilo, sudah mengalir beberapa pernyataan yang bisa mamanaskan situasi internal kabinet. Bahkan pernyataan Rizal Ramli ini di antaranya langsung dicounter oleh menteri yang lain.

Berikut ini beberapa pernyataan yang kabarumat kumpulkan dari media massa.

1. Bermaksud Membatalkan Rencana Pembelian 30 Pesawat Airbus

Menteri yang membidangi penyelenggaraan pemerintahan di bidang kemaritiman ini telah mengusulkan kepada Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) untuk  membatalkan rencana PT Garuda Indonesia membeli 30 pesawat Airbus A350.

Dalam sebuah kesempatan di Kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Kamis (13 Agustus 2015), Rizal Ramli mengatakan tidak ingin melihat Garuda bangkrut lagi sehingga menyampaikan usul itu kepada Presiden.

“Minggu lalu saya ketemu Presiden Jokowi. Saya bilang, mas saya minta tolong layanan tolong diperhatikan. Saya tidak ingin Garuda bangkrut lagi. Karena sebulan yang lalu beli pesawat dengan pinjaman 44,5 miliar dollar AS dari China Aviation Bank untuk beli pesawat airbus 350, 30 unit. Itu hanya cocok Jakarta-Amerika dan Jakarta-Eropa,” ujarnya seperti dikutip Tribunnews.

Menurut dia, rute internasional yang akan diterbangi oleh Garuda Indonesia tidak menguntungkan. Pasalnya saat ini, maskapai di kawasan ASEAN yang memiliki rute internasional ke Amerika Serikat dan Eropa yaitu Singapore Airlines kinerja keuangannya kurang baik. Demikian juga dengan Garuda Indonesia. Rute internasional Garuda ke Eropa selalu membuat maskapai BUMN itu, karena menurut dia tingkat keterisian penumpangnya hanya 30 persen.

“Presiden setuju dan kami akan panggil direksi dan batalkan supaya ganti rencana,” lanjutnya seperti dikutip JPNN.

Usulan ini mendapat pertentangan dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno. Ia menanyakan dasar bagi Rizal membujuk Jokowi -sapaan Joko Widodo- membatalkan rencana Garuda membeli pesawat. Sebab, rencana itu merupakan aksi korporasi Garuda yang diperlukan.

“Berdasarkan apa? Didasari apa bicara seperti itu? Kami melihatnya Garuda itu akan mengembangkan usahanya. Jadi dasar apa mengusulkan itu?” tanya Rini di kantornya, Jakarta, Kamis (13 Agustus 2015) seperti dikutip JPNN.

2. Menuduh Ada Pejabat Bermain dalam Proyek Kereta Peluru

Pemerintah sedang menginisiasi proyek besar yaitu proyek kereta api cepat atau disebut kereta peluru yang menghubungkan Jakarta dan Bandung. Dua negara sedang bersaing agar mendapatkan proyek bernilai triliunan ini, yaitu Jepang dan Cina.

Rizal Ramli menenggarai ada pejabat yang bermain dalam proyek ini.

“Saya enggak peduli beking siapa di belakang. Saya sudah bilang sama Pak Presiden, memang di dalam proyek ini ada beking dan ada pejabat yang ingin bisnis,” ujar Rizal, Kamis (13 Agustus 2015) seperti dikutip Kompas.

Pernyataan Rizal Ramli ini jelas membuat merah kuping pejabat yang berurusan dengan proyek yang ditargetkan selesai dalam 3 tahun ini.

Di tengah kabinet juga ada menteri yang pernyataannya tentang pembangunan jalur kereta peluru sering dikutip media. Antara lain Rini Soemarno yang pernah mengungkapkan keinginannya agar pembangunan kereta cepat digarap oleh konsorsium perusahaan Cina dan BUMN. Juga ada Adrinof Chaniago yang terang-terangan mengatakan tawaran China untuk kereta cepat lebih menarik. Padahal seperti diketahui, tender antara Cina dan Jepang masih sedang dalam penilaian.

3. Mengkritisi Program Jokowi Pembangunan Pembangkit Listri 35 ribu Mega Watt

Menurut Rizal Ramli, program pembangkit listrik 35 ribu MW yang dicanangkan pemerintahan Jokowi dinilai tidak masuk akal. Pasalnya saat ini pemerintahan Jokowi juga sedang mengejar target pemerintahan zaman SBY lalu yang masih kurang 7 ribu MW. Sehingga total yang harus diselesaikan selama 5 tahun ini adalah 42 ribu MW.

“Mana yang betul-betul masuk akal. Jangan memberikan target terlalu tinggi tapi dicapainya susah. Supaya realistis. Total 42 ribu MW. Itu sulit dicapai dalam waktu lima tahun,” ujar Rizal Ramli di kantornya, Jakarta Kamis, (13 Agustus 2015).

Rencananya, mantan Menko Perekonomian ini akan memanggil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said dan Dewan Energi Nasional (DEN) untuk membicarakan ulang terkait program yang sudah dicanangkan itu.

“Saya akan minta Menteri ESDM dan Dewan Energi Nasional untuk melakukan re-evaluasi ulang terkait itu (pembangkit listrik 35 ribu MW, Red.),” ujarnya.

Pernyataannya ini dibantah oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said yang bersikeras akan menjalankan program pembangunan pembangkit listrik 35 ribu megawatt (MW).

“Jadi sebetulnya secara persiapan kita optimis, cuma tantangannya adalah proyek manajemen yang ada. Kalau kita bicara soal (masalah) tanah mengenai perizinan makanya sekarang kita coba,” ujarnhya di kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Kamis (13 Agustus 2015).

4. Menyindir Menteri yang Tak Hadiri Sertijab

Saat serah terima jabatan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dari Indroyono Soesilo, beberapa menteri di bawah koordinasi Rizal Ramli terlihat turut hadir kecuali satu orang. Dia adalah Menteri ESDM Sudirman Said.

Rizal Ramli pun tak segan menyindir menteri yang tak datang itu.

“Oh, ada yang tidak hadir, sudah izin ya? Lain kali, saya bilang jangan dibiasakan banyak izin,” ujarnya usai sertijab di Kantor BPPT II, Jakarta, Kamis (13 Agustus 2015) seperti dikutip Okezone.

Pernyataan-pernyataan menteri Rizal Ramli ini jelas membuat dinamika yang hangat di tengah kabinet. Rakyat hanya bisa berdoa untuk kekompakkan kerja para pembantu presiden demi terselenggaranya pemerintahan yang baik.

Sumber tulisan: JPNN, Tribunnews, Kompas, Okezone, CNNIndonesia